Anorexia and Bulimia merupakan ganguan yang melibatkan keinginan patologis untuk tidak mengalami peningkatan berat badan (pemogokan yang tidak seimbang pada wanita).

Anorexia
Aneroxia ditandai dengan adanaya penurunan berat badan ekstrem yang disebabkan oleh diri sendiri paling sedikit 15% dari berat badan minimum seseorang yang normal. Seorang wanita penderita anorexia tidak hanya mengalami penurunan berat badan, tetapi juga berhenti mengalami menstruasi. Penurunan berat badan dapat menyebabkan sejumlah efek samping berbahaya, seperti kurus, rentan terhadap infeksi, dan gejala kurang gizi lainya. Efek samping ini dapat menyebabkan kematian.
Aneroxia relatif jarang terjadi. Pada wanita 20 kali lebih sering terjadi dibandingkan dengan pria (terutama wanita usia belasan tahun dan tiga puluhan). Sebagian besar penderita aneroxia berasal dari kelas menengah sampai atas dan yang berkilit putih. Mereka cenderung menghitung jumlah kalori yang dikonsumsinya dan berolahraga secara berlebihan (olahragawan kompulsif).

Bulimia
Bulimia ditandai dengan mengonsumsi makanan dengan jumlah besar dalam periode waktu tertentu. Makanan tersebut kemudian dimuntahkan dengan cara merangsang muntah atau menggunkan laksatif, sehingga berat badan mereka relatif normal. Bumilia lebih sering terjadi pada wanita muda dan terjadi pada semua kelompok rasial, etnik, dan sosioekonomi. Bumilia lebih sering terjadi dibandingkan dengan aneroxia.
Akibat fisiologis sebagai akibat dari perilaku tersebut dapat mengganggu keseimbangan elektrolit kalium didalam tubuh. Gangguan ini dapat menyebabkan masalah seperti dehidrasi, aritmia jantung, dan infeksi saluran kemih.

Para peneliti mengemukakan beberapa penyebab terjadinya aneroxia dan bumilia, yaitu faktor sosial, biologis, dan faktor kepribadian atau keluarga.

1. Faktor Sosial
Banyak ahli psikologi mengemukakan bahwa faktor sosial dan budaya memiliki peran penting dalam aneroxia dan bumilia, khususnya penekanan masyarakat terhadap kekurusan ideal wanita. Objectification theory adalah sebuah nilai socialcultural yang seharusnya dalam budaya dimana objektifikasi seksual tubuh wanita secara fundamental mengubah pandangan dan kesejahteraan seorang anak perempuan dan wanita. Objektifikasi seksual adalah bentuk dehumanisasi dari hal interpersonal. Hal ini mengurangi kemanusiaan penuh orang pada status obyek untuk kepentingan pengamat.
Teori ini percaya bahwa wanita mempelajari secara mendalam cara pandang objektifitas pengamat terhadap badan mereka. Keasyikan dengan penampilan fisik ini disebut objektifikasi diri (self-objectification), maksudnya sesorang berpikir dan menilai tentang tubuhnya sendiri lebih dari pandangan orang ketiga, berfokus pada hak istimewa, atau atribut tubuh yang tidak teramati. Teori objektifikasi self-objectification menyebabkan berbagai reaksi psikologis dan emosional. Hal ini mengakibatkan wanita cenderung berusaha mengubah bentuk tubuhnya agar ideal sebagaimana orang lain katakan ideal. Misalnya, masa sekarang dipercaya bahwa bentuk tubuh ideal itu seperti bentuk tubuh Atiqah. Maka masyarakat akan menilai bentuk tubuh seorang wanita itu atau tidak dibandingkan dengan Atiqah. Karena itu semua wanita akan berusaha mengubah tubuhnya agar menyerupai bentuk tubuh Atiqah.

2. Faktor Biologis
Sebuah hipotesis mengemukakan bahwa aneroxia disebabkan oleh malfungsi hipotalamus (bagian otak yang membantu proses regulasi makanan), karena kadang-kadang perhentian menstruasi pada penderita aneroxia tidak disebabkan oleh berat badan atau efek sampingnya. Penderita anorexia menunjukkan lemahnya fungsi hipotalamus dan tidaknya normalnya beberapa kimia saraf yang penting untuk memungsikan hipotalamus. Jadi ada kemungkinan hal tersebut merupakan akibat dari malfungsi tersebut mengingat hipotalamus memiliki peran penting dalam pola makan dan fungsi hormonal.
Sama halnya dengan bumilia, mungkin ada kekurangan serotonin di neurotransmitter, yang berperan dalam regulasi suasana hati dan nafsu makan, atau fungsi khusus yang berpengaruh dalam mengambil keputusan dan kontrol diri.

3. Faktor Kepribadian dan Keluarga
Banyak wanita muda yang menderita gangguan pola makan berasal dari keluarga yang menuntut kesempurnaan dan kontrol diri tapi tidak boleh mengekspresikan keramahan dan konflik. Beberapa wanita muda mungkin berusaha untuk menjaga kontrol yang berlebihan dan mengekspresikan bentuk kepedulian terhadap orang tua dengan mengontrol kebiasaan makan, yang kadang-kadang mengakibatkan aneroxia. Beberapa lagi mungkin beralih ke pesta makan saat mereka merasa marah atau sangat emosional dan merasa harga diri mereka rendah.
Terapi dirancang untuk membantu orang dengan gangguan makan untuk kembali pada kebiasaan makan yang sehat dan maupun yang berurusan dengan masalah emosional yang mereka hadapi. Terapi ini telah terbukti berguna. Obat-obatan yang meregulasi jumlah serotonin juga dapat membantu, terutama pada penderita bumilia. Aneroxia dan bumilia adalah penyakit yang serius, Namun penderita seringkali memiliki masalah yang signifikan selama beberapa tahun.