ImageDiambilnya puntung rokok yang masih membara itu. Bapak tak sengaja meninggalkan rokok itu di dekatnya. Kala itu, Tika masih kelas 5 SD. Karena ingin mencoba seperti apa enaknya merokok, ia pun menghisapnya. Setelah asap rokok memasuki mulutnya, Tika terkejut. Katanya, merokok itu nikmat, tapi Tika justru merasakan sebaliknya. Ia terbatuk-batuk hingga mata dan hidungnya berair. Sejak saat itu, Tika tidak ingin lagi merokok. Namun beda soal dengan bapaknya. Sepuluh tahun kemudian pun, bapak masih saja merokok.

 

 
Menurut Tika, yang saat ini duduk di bangku kuliah, bapak mulai merokok sejak usia 18 atau 19 tahun. Bapak mulai merokok lantaran kecewa tidak berhasil masuk Angkatan Udara Republik Indonesia, sebab ia hanya lulusan sekolah teknik menengah. Sehari, pria berusia 49 tahun itu bisa menghabiskan sebungkus rokok. Sebelum berangkat kerja, merokok. Sepulang kerja, merokok. Sebelum makan, merokok. Setelah makan, merokok lagi. Hampir setiap melakukan sesuatu, selalu diselingi dengan merokok. “Kalau tidak merokok, mulut terasa asam,” begitu kata bapak.

 

 
Awalnya, Tika merasa terganggu. Ia terpaksa mencium bau tak sedap di dalam rumah dan harus membersihkan abu rokok yang bertebaran dimana-mana. Apalagi ketika Tika sedang membonceng bapak yang sedang merokok. Ia pasti menghirup asap yang terhambur ke wajahnya. “Ih, Bapak jahat, kan asapnya kena mukaku” kata Tika sambil mengusir asap di wajahnya. Tika tahu akan risiko kanker atau ancaman gangguan pernapasan akibat asap rokok yang dihirupnya. Namun lama-lama, Tika menjadi biasa, atau lebih tepatnya: tak peduli dengan itu. Meskipun, dalam hati ia tetap saja terganggu.
 
Tetapi Tika bukan satu-satunya yang terganggu dengan kebiasaan bapak merokok. Ibunya pun demikian. Bahkan menurut Tika, ibu jauh lebih terganggu daripada dirinya. Ibu selalu ngomel-ngomel jika bapak merokok di dalam rumah, dan kemudian “mengusirnya” agar merokok di luar rumah. Ia sangat tidak suka dengan bau rokok. Selain itu, membeli rokok juga dianggap menghamburkan uang. Menurut ibu, lebih baik membeli baju daripada membeli rokok. Kalau kata Tika, “Jika uang untuk beli rokok selama ini dijumlah, bisa buat beli universitas. Hahahaha! ”
 
Meskipun anak dan istrinya terganggu, bapak tetap bergeming. Ia masih saja merokok, meski badannya berbau rokok, amandelnya sudah hancur, plus selalu dikomentari secara negatif oleh anak istri. Sepertinya sudah tak ada yang bisa menghentikan kebiasaannya itu. Namun kebiasaan itu akan segera berubah pada suatu malam.
 
Malam itu ada di suatu hari, sekitar tahun 2008. Saat itu bapak sedang tidur di sofa. Tanpa tahu penyebabnya, ia merasakan demam dan badannya mulai menggigil. Ketika bernafas, ia merasakan sakit. Dadanya pun terasa sakit. Karena panas yang dirasakan, ia bahkan sampai berganti baju 5 kali, karena keringat yang terus mengucuri badannya. Katanya, pada malam itu ia bermimpi sedang naik kereta. Ketika di dalam kereta, ia bertemu dengan seorang kakek berbaju putih. “Sedang apa kamu disini? Kamu belum boleh disini. Belum saatnya,” kata sang kakek. Dan bapak pun terbangun. Ibu dan Tika ada di dekatnya, namun tak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka pikir bapak hanya demam biasa. Hingga akhirnya mereka tahu, setelah ada tetangga yang mengalami hal serupa.
 
Tetangga tersebut juga merasakan demam dan menggigil, seperti bapak. Ketika diperiksa dokter, tetangga itu disimpulkan mengalami serangan jantung. Bapak terkejut. “Sakitnya kemarin, ternyata tidak main-main,” pikirnya. Sejak saat itu, bapak memutuskan untuk berhenti merokok. Sebelumnya, ia memang pernah berhenti merokok, namun hanya bertahan selama sebulan. Alasannya, karena ia dipanggil “gendut” oleh keluarganya; mengingat berat badannya yang bertambah. Namun niat kali ini beda. Ia berniat ingin berhenti selamanya.
 
Tentu saja, keputusannya ini mengundang reaksi positif dari Tika, dan ibu khususnya. Bapak jadi diberikan perlakuan istimewa; dibelikan pasta gigi khusus perokok, permen karet sebagai pengganti rokok, sering dibelikan buah atau dibuatkan jus, sering diantarkan berolahraga, dan tak lagi disebut dengan panggilan “gendut”. “Bapak dan ibu jadi seperti orang pacaran lagi. Jalan-jalan bareng. Olahraga bareng. Cubit-cubitan,” begitulah Tika mengutarakan perubahan perilaku mereka setelah bapak berhenti merokok.
 
Selain karena dukungan keluarga, keinginan berhenti merokok makin kuat karena bapak mulai merasakan manfaat jika tidak merokok. Kata bapak, giginya lebih putih dan badannya pun tidak bau rokok lagi. Ia juga tidak ngos-ngosan ketika sedang berenang atau bermain bola. Dan anehnya, saat ini bapak merasa terganggu jika ada orang merokok di sekitarnya. Ia kadang mengusir orang yang sedang merokok di dekatnya dan bahkan merasa mual ketika mencium asap rokok. “Oh, begini toh, rasanya ada di sekitar perokok,” lanjutnya. Tika hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar pernyataan bapaknya itu.
 
Sekarang, bapak sudah benar-benar berhenti merokok. Teman-teman bapak, seperti biasa, meragukan ketahanannya, “ah, paling cuma tahan sebulan,” begitu kata mereka. Bapak hanya tersenyum simpul dan membalasnya, “hati-hati saja kalian, jangan sampai keretanya kebablasan dan tidak berhenti,” sedikit menceritakan perihal mimpinya dulu. Ia juga membuktikan keseriusannya dengan lebih banyak berolah raga dan juga mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan.
 
Tika dan keluarga termasuk salah satu keluarga yang beruntung, karena meskipun sudah hampir 30 tahun “berteman” dengan kebiasaan merokok bapak, tak ada korban jiwa melayang karenanya. Apalagi, sekarang bapak sudah berhenti merokok secara total. Namun masih banyak keluarga yang tak seberuntung mereka. Menurut WHO tahun 2008, sebanyak 1/3 orang dewasa di dunia secara rutin terekspos dengan asap rokok. Dalam asap tersebut, telah teridentifikasi 250 zat berbahaya, yang 50 diantaranya bisa menyebabkan kanker. Selain kanker, asap itu juga menimbulkan bermacam gangguan pada manusia, seperti gangguan pernapasan akut, kematian pada bayi, penyakit jantung koroner, gangguan paru-paru, asma, dan juga gangguan alat reproduksi. Di Indonesia sendiri, dari total 1,7 juta kematian di tahun 2005, sebanyak 400.000 (23,7%) orang meninggal karena rokok.
 
Oleh sebab itu, apakah kita masih ingin membuat orang-orang terdekat kita menderita karena rokok? Masihkah kita lebih memilih memuaskan keinginan untuk merokok dibanding membahagiakan mereka? Atau jangan-jangan, kita tidak tahu bahwa mereka terganggu?