"Tidak semua hal bisa dibuat dalam bentuk kata. Tapi semua yang bisa dibuat dalam kata, pasti bisa dituliskan"

“Cinta Lokasi (CINLOK) di Tempat Kerja”

BAB I :

Pendahuluan

 

Latar Belakang

Rasa cinta memang bisa timbul di mana saja dan kapan saja. Cinta lebih mudah datang dari yang dekat-dekat. Karena dekat seseorang bisa lebih sering bertemu. Karena dekat seseorang bisa lebih cepat terbiasa dan jadi suka. Karena dekat seseorang bisa lebih mudah untuk bersama, dan karena dekat, cinta pun lebih mudah untuk melekat. Rasa suka yang kemudian tumbuh menjadi sebuah rasa cinta karena faktor jarak, sering disebut cinta lokasi. Sama seperti para selebriti yang kepincut dengan lawan mainya atau pasangan duetnya. Seperti Pasangan pesinetron Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu. Selain mereka, juga ada pasangan Laudya Chintya Bella dan Chico Jericho, dan Derby dengan Gita Gutawa  kemudian dengan Febby Rastanty. Tapi, namanya juga cinta lokasi alias cinta yang tumbuh karena dikondisikan oleh kebersamaan yang terjadi dalam waktu tertentu, hubungan cinta yang dihasilkannya pun biasanya tak langgeng.

Namun hal ini tidak menutup kemungkinan seseorang bisa menemukan jodohnya di tempat kerja. Seperti beberapa selebriti misalnya. Tak hanya memadu kasih sebagai pasangan dalam taraf pacaran. Ada juga beberapa selebriti yang jodohnya ditemukan di lokasi syuting atau di atas panggung, seperti pasangan Atalarik Syah dengan Tsania Marwa dan penyanyi Anang Hermansyah yang kepincut oleh teman duetnya Ashanty. Lalu apa itu cinta? Bagaimana rasa cinta itu tumbuh? Proses apa saja yang terjadi dalam menjalin relasi dengan orang yang kita cintai ?

Ada beberapa hal yang melatarbelakangi timbulnya rasa cinta antara pria dan wanita, diataranya adalah cinta karena persahabatan dengan lawan jenis, cinta karena pandangan pertama, cinta hadir karena adanya pihak ketiga (mak comblang ), dan cinta merekah karena kemajuan teknologi.

Dalam makalah ini, penulis akan membahas mengenai latar belakang timbulnya cinta karena persahabatan/pertemanan, secara khusus karena adanya kedekatan jarak yang juga sering manjadi awal dari persahabatan. Hadirnya cinta dalam jalinan persahabatan bukan hal yang aneh. Jalinan persahabatan antar teman berlawanan jenis menjadikan cinta yang mereka rasakan adalah sebuah cinta yang berawal dari kebersamaan dalam melakukan aktivitas (teman sekelas, teman organisasi, teman sekantor, dsb). Jadi cinta yang akan dibahas adalah cinta karena faktor jarak atau lebih dikenal dengan “cinta lokasi”.

BAB II :

Tinjauan Pustaka

Banyak ahli menyebutkan bahwa cinta merupakan salah satu emosi dasar yang dimiliki manusia, selain marah, bahagia, sedih, terkejut, jijik dan takut.  Tidak ada manusia normal yang tidak mengalami cinta dalam hidupnya. Penelitian yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa pada saat masih bayi, cinta sudah dirasakan.

Anak-anak umur 3,5 tahun sudah bisa mengalami cinta yang penuh hasrat. Banyak yang masih ingat, pada saat masih sekolah dasar dulu telah mengalami jatuh cinta. Mereka begitu merindukan seseorang, bila bertemu hati berdegup kencang, dan senang sekali bisa melihatnya. Pendek kata, mereka telah jatuh cinta pada saat masih begitu muda.

Jatuh cinta  merupakan sebuah rasa yang tak pernah diduga-duga kedatangannya. Keinginan untuk jatuh cinta tak bisa diatur-atur, karena hal itu timbul begitu saja mengikuti pilihan hati seseorang.Perasaan cinta berhasrat itu (passionate), semakin menjadi-jadi pada saat seseorang anak beranjak puber, dan berbeda bentuk dengan cinta pada orang dewasa. Ini yang membuat orang berkesimpulan bahwa cinta sudah ada dalam gen manusia. Merupakan hal alamiah seseorang memiliki cinta. Cinta yang dialami seseorang pada saat dewasa diketahui tergantung pada tipe kelekatan yang dimiliki saat orang itu masih kecil.

Attraction and Intimacy : liking and Loving others

Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan untuk memiliki (need to belong). Kebutuhan ini merupakan suatu motivasi untuk terikat dengan orang lain dalam suatu hubungan interaksi yang positif secara terus-menerus.

  1. A.   INTERPERSONAL ATTRACTION

Orang menjalin relasi karena kebutuhan untuk berafiliasi. Ada 2 alasan seseorang berafiliasi yaitu Comparation : Kita berinteraksi dengan orang lain untuk dapat membandingkan apakah kita sama dengan orang itu/tidak, apakah kita lebih baik dari orang itu/tidak; dan Exchange : Mencari orang lain yang bisa memenuhi kebutuhan akan rasa nyaman. Berikut faktor-faktor yang membuat orang menjalani persahabatan dan attraksi antara lain : Proximity, Physical Attractiveness, Similarity, Liking Those Who Like Us, dan Relationship Rewards

 

 

 

      Proximity (Kedekatan Secara Geografis)

Kedekatan (proximity) merupakan prediktor yang kuat dalam menentukan pertemanan/persahabatan. Walaupun kelihatannya sepele untuk dijadikan sebagai pondasi terbentukya cinta romantis (romantic love), namun ahli sosiologi menemukan bahwa kebanyakan orang menikah dengan seseorang yang tinggal di daerah yang sama, atau bekerja di tempat yang sama, berada di kelas yang sama, atau memiliki tempat favorit yang sama. tidak hanya menimbulkan rasa suka, kedekatan dapat juga menimbulkan kebencian. Namun, orang yamg sering berinteraksi lebih mungkin menjadi teman baik daripada musuh. Interksi memungkinkan orang untuk mengekplorasi kesamaan mereka, merasakan saling menyukai satu sama lain, dan untuk melihat diri sebagai unit sosial.

      Physical Attractiveness

            Daya tarik fisik ternyata sangat berpengaruh dalam attraksi individu. Misalnya,  daya tarik fisik wanita muda merupakan tolak ukur yang cukup baik dalam prediksi seberapa sering wanita muda berkencan. Dalam Physical Attractiveness terdapat matching  phenomenon yaitu kecenderungan orang untuk  mencari pasangan yang sebanding dalam daya tarik dan sifat lain (Sepadan). Orang cenderung memilih sesorang yang sepadan (good match)  sebagai teman, khususya untuk menikah, bukan hanya berdasarkan tingkat kecerdasan, tetapi juga berdasarkan tingkat daya tariknya.

      Similarity vs Complementary

            Persamaan dapat memunculkan kesan. Donn Byrne melakukan penellitian dan menemukan bahwa semakin mirip sikap seseorang dengan kita, semakin menyenangkan orang tersebut bagi kita. Ketika orang lain berpikir sama seperti kita, kita tidak hanya menghargai sikap mereka, tetapi juga menyimpulkan secara positif karakter mereka.  Begitu juga sebaliknya, ketika kita menemukan seseorang yang sikapnya berbeda dengan kita, kita bisa tidak menyukai orang tersebut. Dengan kata lain, perbedaan berpotensi menimbulkan konflik.

                 Dalam kenyataannya, tidak menutup kemungkinan bahwa kita akan menemukan dimana perbedaan menimbulkan rasa suka (liking). Hal ini disebut complementary, yaitu kecenderungan dalam relasi dimana salah seorang melengkapi apa yang hilang dari seseorang yang lain. Perbedaan mendekatkan jika seseorang berpikir bahwa perbedaan itu penting dan bisa melengkapi kekurangannya. Dalam hal ini, ia akan menerima orang lain yang berbeda tersebut.

 

 

      Liking Those Who Like Us

                 Sebuah fenomena yang biasa terjadi adalah menyukai orang yang menyukai kita. Dengan kata lain kita menyukai orang lain karena orang tersbut menyukai kita. Kita menyukai orang yang bersikap positif dengan kita.

      Relationship Rewards

                 Kita tertarik pada orang lain yang membuat kita senang dan bahagia. Biasanya diekspresikan dengan “saya senang dengan dia, karena dia membuat saya senang”. Berdasarkan reward theory of attraction, kita menyukai orang yang perilakunya bermanfaat/menguntungkan, atau dengannya kita terhubung dengan peristiwa yang menguntungkan. 

            Selain itu, ada beberapa karakteristik situasi yang mendorong “ketertarikan” dan keinginan untuk berinteraksi, yaitu:

©      Proximility : Cenderung berteman dengan orang dekat (satu lokasi),

©      Familirity : Bertemu dengan orang yang sering anda temui,

©      Anxiety : Saat cemas , semakin cemas, keinginan untuk bersama dengan orang lain meningkat.

 

  1. B.   INTIMATE RELATIONSHIP

            Intimacy merupakan proses berbagi secara mendalam dengan orang lain. Intimate Relationship adalah kebersamaan yang unik di anatara dua individu yang unik.

            Dalam  Intimate Relationship terdapat close relationship antara dua orang yang melibatkan :

  1. Pengahyatan emosioanl, perasaan mengasihi, dan cinta,
  2. Pemenuhan kebutuhan psikologis diantara pasangan , seperti berbagai perasaan dan saling memperkuat,
  3. Saling ketergantungan antar individu , masing masing memiliki pengaruh kuat terhadap yang lain,
  4. Ada upaya bikin tenang, dan nyaman,
  5. Saling melengkapi satu sama lain.

           

            Selain itu, Intimate Relationship juga melibatkan self yang lebih kuat dengan cara menyertakan orang lain didalam self dan Sharing tentang apapun yang sifatsanya sangat pribadi kepada pasangan intimnya. Beberapa ciri- ciri intimate relationship ialah melibatkan daya tarik seksual/romantis, perasaan cinta/sayang dan pernikahan. Berikut faktor-faktor yang dapat membuat orang dapat menjalin relasi secara intim :

      Attachment

            Attachment  adalah ikatan emosional yang kuat yang didapat dari pengasuh pada awal kehidupan. Relasi emosi sejak bayi mempengaruhi bagaimana hubungan kedekatan seseorang dengan orang lain pada saat dewasa.

      Equity

            Seseorang paling merasakan puas dalam suatu relasi ketika rasio antara keuntungan dan kontribusi seimbang kedua belah pihak. Dalam hal ini, bukan equity pada kedua pihak yang dihitung tapi keseimbangan (Keseimbangan apa yang diberikan dan diterima).

Keuntungan A : Kontribusi A = Keuntungan B : Kontribusi B

Catatan : Jika proporsinya yang diterima sama/sesuai dengan yang diberikan maka dikatakan seimbang.

      Self-disclosure

            Self-disclosure adalah keterbukaan diri yang dilakukan seseorang terhadap yang lain. Hal ini akan memebuat seseorang menjalani komunikasi yang terbuka, dan itu akan mempererat relasi intim mereka. Self-disclosure merupakan bentuk komunikasi antara satu dengan yang lain untuk lebih mengenal orang lain. Dalam self-disclosure terjadi social penetration,  yaitu  suatu relasi akan bergerak dari taraf yang superficial menuju ke keadaan yang lebih intim. Semakin dalam suatu relasi, pertukarannya akan semakin luas, dan orang akan semakin melibatkan area hidup yang lebih banyak dan lebih mendalam, sehingga semakin dalam pula self disclosurenya.

 

            Pandangan tentang proses pembentukan intimate relationship :

y       Attraction to love

            Relasi intim berkembang melalui serangkaian tahapan spesifik dalam aturan yang spesifik. Perasaan berkembang dari kesamaan nilai dan keyakinan. Komitmen didasarkan pada keberhasilan pembagian peran dalam relasi yang dibina.

y       Social Exchange

            Prinsipnya adalah orang akan termotivasi untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan cost dalam relasi yang dibina. Pasangan yang masing-masing merasakan reward lebih besar dariapda cost di dalam relasi mereka, merasakan kepuasan berlerasi yang lebih tinggi, sehingga relasinya cenderung bertahan lebih lama.

y       Perception of Reward and Cost

            Orang seringkali berasumsi bahwa apa yang mereka anggap sebagai reward, merupakan reward pula bagi orang lain. Dalam pasangan seringkali satu pihak lebih memperhatikan kontribuksinya dalam relasi daripada memperhatikan kontribusi pasangannya.

y       Equity

Seseorang paling merasakan puas dalam suatu relasi ketika rasio antara keuntungan dan kontribusi seimbang kedua belah pihak (Keseimbangan apa yang diberikan dan diterima).

Keuntungan A : Kontribusi A = Keuntungan B : Kontribusi B

y       Self  Disclosure

Bentuk komunikasi antara satu dengan yang lain untuk lebih mengenal dirinya (self disclosure). Bentuknya adalah keterbukaan diri. Keterbukaan diri yang dilakukan seseorang akan memebuat seseorang menjalani komunikasi yang terbuka, dan itu akan mempererat relasi mereka.


 

BAB III :

Pembahasan

Pengertian Cinta

Banyak ahli menyebutkan bahwa cinta merupakan salah satu emosi dasar yang dimiliki manusia, selain marah, bahagia, sedih, terkejut, jijik dan takut.  Tidak ada manusia normal yang tidak mengalami cinta dalam hidupnya. Dengan kata lain, cinta merupakan hal yang normal, bahkan remaja seringkali bertanya-tanya apakah dirinya normal. Cinta juga menambah keceriaan dalam kehidupan manusia dan penuh dengan nuansa emosi dan perasaan.

Pengertian cinta itu sendiri sulit dibedakan batasan ataupun pengertiannya, karena cinta merupakan salah satu bentuk emosi dan perasaan yang dimiliki individu. Dan sifatnya pun subyektif sehingga setiap individu akan mempunyai makna yang berbeda tergantung pada penghayatan serta pengalamannya. Pengalaman bisa hasil observasi dari individu atau mungkin pengaruh Attachment, yaitu  ikatan emosional yang kuat yang didapat dari pengasuh pada awal kehidupan.

Latar Belakang Timbulnya Rasa Cinta

Ada beberapa hal yang melatarbelakangi timbulnya rasa cinta antara pria dan wanita, yaitu:

      Cinta karena persahabatan dengan lawan jenis.

Jalinan persahabatan antar teman berlawanan jenis menjadikan cinta yang mereka rasakan adalah sebuah cinta yang berawal dari kebersamaan dalam melakukan aktivitas (teman sekelas, teman organisasi, teman sekantor, dsb). Sesuai dengan teori kedekatan (proximity), dimana interaksi memungkinkan orang untuk mengekplorasi kesamaan mereka, merasakan saling menyukai satu sama lain. Kenyataan memang tak bisa dihindari, setiap hari setiap saat mata dan hati si pelaku cinta ada bersama sahabatnya, tak pelak lagi, cinta pun bisa hadir. Jatuh cinta yang dilatarbelakangi oleh persahabatan adalah jatuh cinta yang hadir karena pengenalan kepribadian yang didukung oleh adanya self-disclosure (keterbukaan diri) yang dilakukan seseorang terhadap yang lain.

      Cinta karena pandangan pertama.

Daya tarik fisik ternyata sangat berpengaruh dalam attraksi individu (Physical Attractiveness). Yang menjadi fokus dari cinta ini adalah wajah. Saat pertama mata menatap, saat itulah ada sesuatu yang terjadi di dalam hati. Yang awalnya tidak disadari kalau itu adalah perasaan cinta, namun kelamaan ternyata terjadi kontak di mana ada rasa ketertarikan, kemudian timbul perasaan ingin dekat sampai akhirnya tak bisa membendung ungkapan cintanya lagi.

      Hadir karena adanya pihak ketiga (Mak comblang ).

Mak comblang  di abad ini masih sangat diperlukan, khususnya untuk mereka yang kurang bisa dalam bergaul atau menutup diri terhadap sebuah perkenalan, bisa jadi karena kurang percaya diri. Pihak ketiga ini, selain orangtua, biasanya saudara atau teman/sahabat. Biasanya mereka diperkenalkan pertama lewat telepon, kemudian setelah berapa lama terjadi komunikasi di antara mereka, fase selanjutnya adalah pertemuan. Nah, saat pertemuan inilah menjadi proses pengenalan lebih jauh – secara fisik, secara nyata dia ada di hadapan.

      Cinta merekah karena kemajuan teknologi.

Kemajuan zaman tidak saja menjadi sebuah pemikiran yang logis tapi juga mengarah pada perubahan sistem dan nilai serta budaya dalam kehidupan anggota masyarakatnya. Sekarang, segala kemudahan kian marak di dapat. Ponsel, dan internet menjadi semacam hal yang biasa. Itu pula yang sekarang menjadi bagian dari upaya pencarian pasangan oleh para pelaku cinta. Chatting  misalnya. Umumnya awal dari chatting adalah sebuah perkenalan biasa – masuk dalam sebuah room pada sebuah website, kemudian menegur salah seorang anggotanya, terjadilah percakapan singkat/perkenalan “hi may I know you?”Selanjutnya percakapan lewat media ini pun berlanjut.

Pengaruh/Dampak Cinta

Dapat merasakan indahnya jatuh cinta memang terasa menyenangkan. Rasa bahagia, senang, dan tak menentu bercampur aduk menjadi satu, saat seseorang tengah dilanda cinta. Dampak cinta itu sendiri bisa  merubah perilaku yang progesif. Perasaan cinta kadang memotifasi seseorang untuk bertingkah laku lebih baik , perubahan perilaku regresif yaitu perasaan yang selalu tergantung pada orang lain, belajar mengenal dan menerima orang lain ( kelebihan dan kekurangan serta perbedaan yang ada), banyak berfantasi (melamun).

                 Perilaku regresif (tergantung pada orang lain) menggambarkan adanya kecemasan (Anxiety) pada individu tersebut. Semakin cemas, keinginan untuk bersama dengan orang lain meningkat. Karena itu individu tersebut butuh berinteraksi, dan biasanya relasi intim akan memberi kenyamanan lebih padanya. Proses ini disebut  Exchange, yaitu mencari orang lain yang bisa memenuhi kebutuhan akan rasa nyaman.

Dalam menjalin relasi pasti ada perbedaan dimana kita akan menemukan perbedaan tersebut menimbulkan rasa suka (liking). Dalam relasi ini terdapat proses saling menerima kelebihan dan kekurangan serta perbedaan yang ada. Hal ini disebut complementary, yaitu kecenderungan dalam relasi dimana salah seorang melengkapi apa yang hilang dari seseorang yang lain.

 

Cinta lokasi

Selain dapat menimpa siapa pun, jatuh cinta juga dapat terjadi di mana saja. Salah satu contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari adalah jatuh cinta dalam lokasi yang sama atau dikenal dengan istilah cinta lokasi (cinlok). Biasanya cinta yang muncul dalam kasus “cinlok” disebabkan oleh faktor kedekatan (proximity). Kedekatan inilah yang akan dijadikan sebagai pondasi terbentukya cinta romantis (romantic love). Cinta lokasi bisa terjadi pada beberapa tempat di bawah ini, seperti : 

  1. 1.      Lokasi syuting

Cinta di lokasi syuting biasanya terjadi pada kaum artis yang karena pekerjaannya selalu berada di lokasi syuting. Biasanya terjadi pada artis – artis yang sedang melakoni satu produksi film atau sinetron. Intensitas yang setiap hari bertemu dan bahkan beradu acting dalam satu scene menyebabkan benih–benih cinta tumbuh di antara mereka. Bahkan ada pula yang mengalami cinta lokasi karena perannya sebagai pasangan kekasih atau suami istri di film tersebut. Cinta lokasi di lokasi syuting ini biasanya sifatnya non permanen alias cuma sekedar iseng. Namun tidak sedikit pula pernikahan langgeng para selebritis yang berawal dari cinta lokasi.  

2.  Kampus

Kampus selain sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan juga berpotensi sebagai salah satu tempat yang dapat menumbuhkan cinta lokasi. Cinta lokasi di kampus biasanya terjadi pada mahasiswa junior dengan kakak kelasnya (senior), biasanya terjadi pada masa–masa ospek. Atau sering pula terjadi juga pada sesama mahasiswa seangkatan. Suka duka masa ospek kerap kali menimbulkan cinta lokasi di kampus. Cinta ini biasanya lebih bersifat sebagai penyemangat kuliah.

 

3.  Kantor

Cinta lokasi bisa juga terjadi di kantor. Sesama pegawai kantor, atau antara karyawan dengan atasan. Dalam hal cinta lokasi di kantor ini biasanya sudah dalam tahap cinta lokasi yang dewasa, dalam arti bukan sekedar cinta buta. Cinta lokasi di kantor biasanya akan berujung pada tahap yang lebih serius yaitu pernikahan. 

Cinta lokasi juga bisa terjadi di tempat sekolah, misalnya anak SMA, mereka menjalin cinta kasih di sekolah, sungguh masa-masa disekolah itu adalah masa yang sangat menyenangkan, apalagi diiringi dengan cinta kasih, tentu saja hal itu akan sulit untuk dilupakan. Masa-masa romance di sekolah biasanya tidak berlangsung lama. mereka menjalin kasih untuk beberapa bulan kemudian itu dikarenakan karena umur mereka yang masih cukup muda untuk menjalani hubungan yang serius. Tempat-tempat ini hanya perwakilan dari beberapa tempat yang populer dari timbulnya perasaan seseorang.

Banyak anak muda yang menamakan cinta lokasi adalah sesuatu hal yang istimewa, karena yang dinamakan dengan Cinlok adalah cinta yang dimulai karena suatu hubungan yang timbul dalam sebuah situasi dan tempat yang sama (faktor jarak), dimana mereka selalu dipertemukan ditempat tersebut sehingga terjadi yang namanya cinta lokasi. Cinta lokasi itu banyak yang terjadi dikalangan anak-anak muda tetapi tidak menutup kemungkinan para usia dewasa juga bisa mengalami hal tersebut.

Kondisi ini disebabkan intensitas pertemuan (Familirity) yang sering terjadi dan jalinan komunikasi yang sangat erat. Tanpa menunggu waktu lama, perasaan ini pun membuat keduanya jadi kian dekat sehingga memutuskan untuk membina tali asmara. 

Berawal dari saling berbagi banyak hal dengan rekannya yang dianggap bisa mengerti dan memahami keadaan masing-masing (self-disclosure), akhirnya berlanjut ke arah hubungan yang lebih serius lagi (social penetration). Katakana saja bermula dari teman dekat tapi mesra yang populer dengan istilah “TTM” lama-kelaman menjadi pacar sesungguhnya atau pacar gelap atau teman selimgkuhan saja. Lokasi bias dimana saja, entah di kantor, tempat syuting, atau pekemahan dan lain sebagainya. Ada juga yang benar-benar karena lokasi saja, artinya cinta itu hanya berlangsung di tempat itu dan berakhir di tempat itu juga.

Cinta lokasi di lingkungan kerja banyak yang berawal dari tugas-tugas kantor yang “memaksa” dua orang karyawan untuk lebih sering untuk bersama(Familirity). Karena kebersamaan ini keduanya pun seperti punya kedekatan emosi yang lama-lama bisa berubah menjadi rasa suka. Kedekatan emosi ini merupakan salah satu dimensi yang terlibat dalam Intimate Relationship.

Cinta lokasi biasanya tidak bertahan lama, mungkin disebabkan karena pertemuan yang sangat singkat. Hal itu yang membuat masing-masing pasangan tidak saling mengenal terlalu jauh dan terlalu dalam sehingga memicu keretakan dalam suatau hubungan. Mereka yang mengalami cinta lokasi sangat bahagia ketika diawal-awal kisah mereka dimulai, tetapi berakhir kemudian dalam waktu yang tidak lama.

 

 


 

BAB IV :

Kesimpulan

 

Cinta lokasi adalah cinta yang dimulai karena suatu hubungan yang timbul dalam sebuah situasi dan tempat yang sama (faktor jarak), dimana mereka selalu dipertemukan ditempat tersebut. Tempat yang sering disebut-sebut sebagai media cinlok adalah lokasi kerja (kantor dan lokasi syuting), sekolah (kampus), dan tempat rekreasi.

Biasanya cinta yang muncul dalam kasus “cinlok” disebabkan oleh faktor kedekatan (proximity) dan intensitas pertemuan (Familirity). Kedua faktor ini akan memungkinkan terjadinya interaksi secara terus-menerus, sehingga komunikasi terus terjadi. Berawal dari saling berbagi banyak hal dengan rekannya yang dianggap bisa mengerti dan memahami keadaan masing-masing. Dalam hal ini, self disclosure telah terbentuk dan akhirnya berlanjut ke arah hubungan yang lebih serius lagi. Kebersamaan dan keterbukaan ini membentuk kedekatan emosi yang lama-lama bisa berubah menjadi rasa suka. Kedekatan emosi ini merupakan salah satu dimensi yang terlibat dalam Intimate Relationship. Cinta lokasi tumbuh karena dikondisikan oleh kebersamaan yang terjadi dalam waktu tertentu, hubungan cinta yang dihasilkannya pun biasanya tak langgeng. Mungkin disebabkan karena pertemuan yang sangat singkat. Hal itu yang membuat masing-masing pasangan tidak saling mengenal terlalu jauh dan terlalu dalam sehingga memicu keretakan dalam suatau hubungan.


 

Daftar Pustaka

 

post : at 02:04 Selasa, 06 Maret 2012,

diunduh : Senin, 12 Maret 2012, Pukul 17.00 WIB.

Ø  Part II, Latar Belakang Kehadiran Cinta

http://virtualwebsite.org/artikel-dan-tutorial/psikologi-terapan/99-part-ii-latar-belakang-kehadiran-cinta.html#.T13WWYEaOEw

diunduh : Senin, 12 Maret 2012, Pukul 17.30 WIB.

diunduh : Senin, 12 Maret 2012, Pukul 18.00 WIB.

 

Proses Komunikasi pada Pernikahan Beda Suku Di Indonesia

BAB I

Pendahuluan

Latar Belakang

Sudah menjadi kodrat alam, sejak dilahirkan kedunia manusia ditakdirkan untuk saling berpasang-pasangan agar hidup bersama untuk membentuk suatu keluarga dalam ikatan suatu pernikahan. Tujuan dari ikatan penikahan tersebut adalah untuk mencapai keluarga yang sakral, penuh kasih sayang; kebajikan dan saling menyantunin, membangun, membina, dan memelihara hubungan kekerabatan.

Pelaksanaan pernikahan diperlukan suatu lembaga pernikahan yang mengatur hubungan antara suami-istri secara yuridis maupun religius, sehingga hubungan tersebut sah menurut agama, hukum, dan tidak melanggar norma-norma hukum kebiasaan yang berlaku di kalangan masyarakat. Pelaksanaan pernikahan tersebut diadakan dalam sejumlah rangkaian upacara pernikahan secara adat yang dipertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat. Bentuk dan tata cara pernikahan tiap daerah berbeda yang pada umumnya dipengaruhi oleh sistem kekerabatan masyarakat hukum adat setempat.

Kebanyakan orang melihat penikahan campuran cenderung negative, tidak dapat diterima, dan tidak normal. Orang Asia-Amerika, mengalami kesulitan dalam pernikahan campuran dibandingkan pada kelompok etnis lain di Amerika.  Dulu, Hukum yang melarang pernikahan antarras antara orang Asia dan Kaukasia cukup umum di Amerika. Setelah perang dunia II, pernikahan antara tentara orang Amerika dengan orang Asia  (khususnya perempuan dari  Jepang, Korea Selatan, Philipina dan Vietnam) kian tinggi. Umumnya pernikahan tersebut terjadi karena mereka memiliki keberanian dan keoptimisan dalam menghadapi kesulitan yang mereka hadapi atas perbedaan budaya, bahasa serta kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat kedua negara. Selain itu, yang paling berat tentunya pada perbedaan budaya diantara keduanya. Satu lagi alasan penting pernikahan campuran Asia-Amerika pada masa perang dunia II adalah karena kurangnya pasangan dari suku sendiri, yaitu kurangnya wanita yang akan dijadikan pasangan.

Di Indonesia juga terjadi hal yang serupa. Ketika kaum imigran dari Cina datang berbondong-bondong ke Indonesia, umumnya mereka adalah laki-laki yang ingin mencari kehidupan lebih baik. Banyak di antaranya yang mengambil perempuan pribumi menjadi istri. Buahnya, lahir suatu keturunan yang lazim disebut “kaum peranakan Cina”, yaitu campuran antara Cina totok dan Pribumi. Refleksi yang sama juga dapat dilihat pada tingginya pernikahan antarsuku di Indonesia. Kita tahu bersama Indonesia merupakan negara yang terdiri dari banyak perbedaan. Salah satu perbedaan yang mencolok adalah perbedaan suku. Kini, Indonesia telah hidup bukan terpisah satu suku dengan lainnya. Suku-suku tersebut kini telah membaur. Pembauran itu tentu saja juga dapat menimbulkan rasa saling suka di antara para kaum mudanya. Rasa suka ini kemudian berlanjut ke hubungan yang serius, terutama bagi mereka yang tinggal di Jakarta. Mereka mungkin biasanya kesulitan memilih pasangan dari sukunya sendiri.

Setiap orang tua dari semua suku akan mengajarkan norma-norma budaya yang berlaku dan yang  di jaga kuat oleh suku mereka kepada anak-anaknya. Dengan kata lain, anak di didik dengan nilai dan pola pikir sesuai budaya yang dipegang. Setiap budaya memiliki nilai tersendiri. Perbedaan inilah yang sering menjadi masalah ketika berelasi di masyarakat. Jika terjadi pernikahan antara pasangan yang berbeda suku, maka kemungkinan munculnya konflik akan lebih besar. Konflik yang muncul tidak hanya ketika meminta restu dari orang tua, tapi juga ketika menjalani kehidupan dalam rumah tangga.

Dalam makalah ini akan dibahas bagaimana proses komunikasi yang terjadi dalam pernikahan beda suku, dan bagaimana peran atau pengaruh komunikasi dalam pernikahan mereka.

BAB III : Pembahasan

Komunikasi Antarbudaya dalam Pernikahan Beda Suku

Realitas budaya berpengaruh dan berperan dalam komunikasi. Terdapat koordinasi antara budaya dengan komunikasi, budaya mempengaruhi komunikasi dan komunikasi mempengaruhi budaya. Ringkasnya, budaya diciptakan, dibentuk, ditransmisikan dan dipelajari melalui komunikasi; sebaliknya praktik-praktik komunikasi diciptakan, dibentuk  dan ditransmisikan melalui budaya (Rahardjo, 2005: 49-51). Dengan kata lain, komunikasi itu terikat oleh budaya. Cara-cara kita berkomunikasi, keadaan-keadaan komunikasi kita, bahasa dan gaya bahasa yang kita gunakan dan perilaku-perilaku nonverbal kita, semua itu terutama merupakan fungsi dan respons kita terhadap budaya kita.  Karakteristik bahasa memengaruhi proses kognitif kita. Dan karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda dalam hal karakteristik semantik dan strukturnya, tampaknya masuk akal untuk mengatakan bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga akan berbeda dalam cara mereka memandang dan berpikir tentang dunia.

Komunikasi menuntun kita untuk bertemu dan bertukar simbol dengan orang lain, sehingga kita dituntut untuk memahami orang lain yang berbeda budaya. Kemiripan budaya dalam persepsi memungkinkan pemberian makna yang mirip pula terhadap suatu objek sosial atau suatu peristiwa. Sebagaimana budaya berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, maka praktik dan perilaku komunikasi individu-individu yang diasuh dalam budaya-budaya tersebut akan berbeda pula.

Memahami budaya yang berbeda dengan kita bukanlah hal yang mudah, karena kita dituntut untuk mau mengerti realitas budaya orang lain. Dalam proses memehami ini, tidak jarang terjadi prasangka terhadap suku yang berbeda. Prasangka terhadap suku merupakan sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain. Prasangka etnik didalam suatu masyarakat bisa dilihat melalui ada tidaknya stereotip etnis negatif yang berkembang di masyarakat. Stereotip-stereotip negatif yang dilekatkan pada etnik tertentu merupakan wujud dari adanya prasangka. Prasangka-prasangka suku maupun ras telah begitu mendunia bagaikan penyakit menular yang sangat berbahaya. Prasangka ini biasanya diperoleh anak-anak melalui proses sosialisasi. Anak-anak banyak yang menginternalisasikan norma-norma mengenai stereotipe dan perilaku antar kelompok yang ditetapkan oleh orang tua dan teman sebaya. Selain dari orang tua dan teman sebaya, media massa juga menjadi sumber anak untuk mempelajari stereotipe dan prasangka.

Pengertian Suku, Pernikahan, dan Pernikahan Beda Suku

Etnosentris/ etnik atau suku bangsa adalah suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama. Identitas suku pun ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas kelompok tersebut dan oleh kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku atau ciri-ciri biologis. Biasanya orang sangat fanatik terhadap suku yang ia anut. Kefanatikan terhadap suku cenderung lebih tinggi dibandingkan kefanatikan terjadap ras.

Pengertian pernikahan (perkawinan) menurut Pasal 1 UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan : Perkawinan ialah ikatan batin antara seorang pria dengan seorang wanita, sebagai suami istri dengan membentuk kelaurga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa. Sedangkan menurut Soerojo Wignjodipoero Perkawinan adalah suatu pristiwa yang sangat penting dalam penghidupan masyarakat, sebab perkawinan tidak hanya menyangkut wanita dan pria bakal mempelai saja, bahkan keluarga kedua mempelai.

Pernikahan beda suku merupakan pernikahan antara seorang pemuda dari suku tertetu denga pemudi dari suku lainnya. Singkatnya, pernikahan antara dua orang yang berasal dari budaya yang berbeda. Perkawinan beda budaya sudah menjadi fenomena yang terjadi pada masyarakat modern dan dampak dari semakin berkembangnya sistem komunikasi yang memungkinkan individu untuk mengenal dunia dan budaya lain.

 

Komunikasi PraNikah

Dulu masing-masing suku tinggal di daerah atau negerinya masing-masing. Terpencarnya manusia dalam beragam wilayah, telah membuat mereka mengembangkan sistem budaya secara tersendiri. Berkat kemajuan dan perkembangan zaman, banyak orang yang merantau, pergi meninggalkan daerahnya (kampung halamannya) untuk mencari kehidupan yang lebih baik atau untuk menuntut ilmu, di negeri orang. Pada zaman ini, orang dari berbagai sukubangsa sudah sering saling bertemu dan bergaul. Kota-kota besar telah menjadi tempat berkumpulnya orang dari berbagai suku maupun ras. Pertemuan orang dari latarbelakang suku dan budaya yang berbeda dapat terjadi di mana saja; misalnya sekolah, kampus, tempat kerja, tempat rekreasi, dan tempat ibadah. Termasuk pertemuan dengan lawan jenis yang berbeda suku maupun ras telah menjadi hal yang tak terhindarkan.

Setiap masyarakat suku bangsa memiliki budaya yang berbeda dengan suku lainnya. Biasanya budaya yang berbeda-beda inilah yang menjadi faktor kunci dalam pernikahan antar suku. Penerimaan terhadap budaya suku lain akan membuat seseorang berpeluang besar diterima oleh keluarga besar calon pasangannya. Mereka akan merasa bahwa budayanya diterima dan dihargai. Hal sebaliknya dapat terjadi, yaitu apabila seseorang resisten dan menolak budaya calon pasangannya. Sebagai contoh, apabila seseorang hendak menikah dengan pasangan yang berasal dari suku Jawa, maka sangat besar harapan dari keluarga pasangannya itu bahwa pernikahan  akan dilaksanakan menurut budaya mereka.

Latar belakang suku dan keluarga sangat berpengaruh pada gaya komunikasi dan nilai-nilai penting dalam pernikahan. Biasanya  keluarga mengingginkan anggotanya menikah dengan orang yang berasal dari suku yang sama. Alasanya adalah kesesuaian nilai dan cara hidup/adat istiadat yang sama, sehingga  penyesuaian masuk ke lingkungan keluarga yang baru itu tidak terlalu rumit. Tujuannya adalah menghindari kesalahpahaman yang menyebabkan perpecahan dan pertengkaran. Namun, ketika seseorang memutuskan untuk menikah dengan seseorang yang berasal dari budaya (suku) yang berbeda, maka ia berperan untuk meyakinkan anggota keluarganya agar menyetujui pernikahannya. Peran ini tentunya akan lebih sulit, karena ia tidak hanya sekedar memberitahukan mengenai hubunganya dan rencana menikah dengan pasangan dari suku lain, namun harus mampu mempengaruhi keluarga besarnya untuk menerima pasangannya. Apalagi jika pada awalnya keluarga kurang mendukung  hubungan beda suku. Dalam hal ini, ia harus memiliki kemampuan komunikasi persuasif agar rencananya direstui oleh keluarga besarnya. Restu ini dapat diperoleh apabila ia mampu merubah opini keluarga mengenai suku pasangannya, sehingga sikap keluarga terhadap suku pasangannya berubah dan akhirnya keluarga bertindak dengan memberi restu dan mau menyiapkan acara pernikahan.

Permasalahan tidak sekedar meyakinkan keluarga sendiri untuk mau menerima pasangan. Masalah lain adalah apakah kita diterima di keluarga pasangan kita atau tidak dan apakah keluarga kita dengan keluarga pasangan kita “cocok”. Artinya, banyak hal yang perlu dipersiapkan dan dibicarakan sebelum acara pernikahan dilakukan. Posisi kita di keluarga pasangan tergantung dari seberapa dekat kita dengan mereka dan persepsi mereka mengenai suku kita. Menjalin relasi yang baik dengan keluarga pasangan adalah satu langkah yang mutlak dilakukan. Kalaupun pada awalnya mereka mempunyai persepsi negatif (prasangka) terhadap suku kita, mungkin saja sikap dan perilaku kita mampu mengikis prasangka tersebut. Hal ini tentunya mempermudah proses persiapan pernikahan yang kita rencanakan. Sehingga jelas bahwa komunikasi dengan keluarga pasangan (kelompok suku yang berbeda) sangat dibutuhkan untuk membentuk relasi,  karena dapat mengubah opini, dan sikap mereka terhadap kita, sehingga aksi yang kita harapkan dari mereka dapat terwujud.

Hal yang sama juga berlaku dalam relasi antara keluarga kedua pasangan. Dalam interaksi antar keluarga bisa terjadi proses komunikasi antarkelompok (antar suku). Topik komunikasi dalam persiapan pernikahan biasanya mengenai adat yang akan dilakukan dalam resepsi pernikahan, apakah sesuai budaya dari suku pihak laki-laki atau dari suku pihak perempuan, atau bahkan keduanya. Masalah pemilihan budaya ini yang paling sering menjadi masalah dalam persiapan pernikahan beda suku, apalagi kalau terdapat keterbatasan finansial.Jika komunikasi ini baik, maka di antara kedua keluarga akan terjalin relasi yang lebih baik, sehingga bisa diprediksikan bahwa tidak ada masalah (masalah terkait suku) dalam persiapan pernikahan.

 

Alasan Menikah Beda Suku

Pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang berbeda kebudayaan (pernikahan campuran) tidaklah gampang dan berjalan mulus, banyak tantangan yang harus mereka hadapai ketika mereka memutuskan untuk menikah. Kemesraan hubungan pertemanan dapat menjadi awal pernikahan campuran. Kaum perempuan memilih menikah dengan pasangan campuran karena merasa memiliki minat yang sama dengan pasangannya. Ketertarikan fisik, kesukaan akan hiburan yang sama dan bahkan kesamaan sosial ekonomi juga merupakan alasan pemilihan pasangan. Alasan yang menyebut tertarik karena ’ras pasangan’ cenderung kurang dibandingkan karena alasan ’nonras’ (Lewis, Yancey, and Bletzer 1997).  Artinya, sama seperti pasangan pada umumnya, pasangan pernikahan campuran tertarik pada pasangannya karena memandang atas kesamaan diantara mereka, dibandingkan atas perbedaannya.

Alasan lain yang juga unik dan kerap disampaikan adalah ‘perbaikan keturunan’. Mungkin saja terjadi karena ada perasaan superioritas dari etnis tertentu atau yang biasa disebut etnosentrisme. Pernikahan beda suku (lintas budaya) memiliki sisi positif dalam hal keturunan yang dilahirkan. Dari studi kesehatan, ketika gen-gen yang berbeda dipertemukan, maka akan terjadi sintesis mutualisme dalam pembentukan generasi unggul yang lebih kuat secara gen. Bentuk dari keunggulan tersebut adalah lahirnya anak-anak yang memiliki intelegence yang lebih baik dan secara fisik memiliki ketahanan tubuh dari penyakit-penyakit lebih kuat serta memiliki fisik yang lebih bagus.


 

Komunikasi Setelah Pernikahan

Perempuan dan lelaki memiliki perbedaan dalam pola pikir dan gaya komunikasi. Umumnya lelaki lebih praktis, artinya tidak terlalu memikirkan detil dan mencari solusi berdasarkan fakta-fakta. Mereka tidak terlalu peduli pada pendapat orang lain. Sementara perempuan lebih memikirkan detil, mempertimbangkan bagaimana pendapat orang lain terhadap tindakannya, dan seringkali melibatkan emosi dalam mengambil keputusan. Cara berpikir ini tampak pula dalam gaya komunikasi mereka. Perempuan sangat suka “curhat” panjang lebar tentang perasaan mereka, sementara lelaki lebih sedikit bicara dan langsung mencari solusi dari suatu permasalahan

Selain faktor gender/jenis kelamin, perbedaan latar belakang budaya seseorang dan pasangan bisa juga menjadi faktor yang menimbulkan kesenjangan dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan  adalah menikah beda budaya (suku) membutuhkan pemahaman terhadap pasangannya. Latar belakang suku dan keluarga sangat berpengaruh pada gaya komunikasi dan nilai-nilai penting dalam pernikahan. Misalnya salah satu suku ada yang menganut  sistem keluarga patriarkal.  Sistem ini menuntut seorang istri untuk tidak pernah membantah dan selalu menuruti apa pun perkataan suami. Hal ini merupakan salah satu penghambat terbukanya ruang komunikasi dalam rumah tangga. Padahal, keberanian untuk mengomunikasikan berbagai hal kepada pasangan justru merupakan hal yang penting karena termasuk bentuk kepedulian atas kelanggengan rumah tangga. Jika suami menganut sistem Patriarkal, maka komunikasi yang terjadi hanya satu arah, tidak akan pernah ada feedback terhadap apa yang dikomunikasikan. Hal yang terburuk adalah ketika sang istri salah mempersepsi arti/maksud dari suami dan tidak boleh ada feedback, akibatnya kesalahan yang fatal tidak terelakkan. Sang suami bisa saja marah besar, dan sang istri merasa diperlakukan semena-mena.

Permasalahan utama dalam komunikasi pasangan beda suku adalah penyesuaian pola komunikasi yang menuntut saling pengertian antara satu dengan yang lain, karena berasal dari budaya yang berbeda.   Jika tidak ada saling pengertian antara pasangan beda suku ketika kedua jenis budaya ini bersatu, maka seringkali muncul miss-communication. Seringkali terdapat perbedaan dalam mempersepsi sesuatu akibat cara pandang yang berbeda. Perbedaan persepsi ini akan berlanjut pada perbedaan sikap, bahkan perilaku. Hasilnya, muncul “percekcokan”. Akibat terburuknya adalah muncul konflik antara kedua pihak tersebut dan berakhir dengan perceraian.

Semakin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyaratisyarat nonverbal, sehingga makin sulit komunikasi dilakukan. Kesulitan ini dapat mengakibatkan lebih banyak kesalahan komunikasi, lebih banyak kesalahan kalimat, lebih besar kemungkinan salah paham dan makin banyak salah persepsi. Jika hal ini diaplikasikan ke dalam dunia pernikahan (rumah tangga), maka semakin banyak perbedaan budaya anatara kedua pasangan, semakin sulit adaptasi dalam menjalani pernikahan. Selain itu semakin banyak perbedaan diantara keluarga besar kedua pasangan, maka kesulitan beradaptasi akan semakin meningkat, karena pada dasarnya keluarga besar (keluarga suku) sangat berpengaruh pada individu. Hal ini mnegindikasikan bahwa masalah dalam pernikahan akan lebih kompleks, apalagi kalau komunikasi tidak sehat. Untuk itu, saling pengertian akan budaya masing-masing mutlak diperlukan untuk meminimalisasi hal tersebut, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa saling memahami kebudayaan pasangan tidak menjamin terbebas dari kesalahpahaman (munculnya rasa tersinggung) pada pasangan yang berbeda kebudayaan.

Setelah menikah, pada pasangan yang sama-sama bekerja awalnya akan membicarakan mengenai keuangan. Karena keduanya akan memiliki penghasilan tersendiri, maka pengalokasiannya perlu dibicarakan secara tuntas akan tidak terjadi kesalahpahaman. Selain itu dalam menentukan lokasi tempat tinggal juga perlu dibicarakan bersama, karena biasanya ada perbedaan selera dalam memilih tempat tinggal. 

Setelah beberapa tahun pernikahan biasanya kelurga memperoleh tambahan anggota, yaitu anak. Dalam relasi antara suami dan istri, banyak hal yang harus dibicarakan megenai hal-hal yang menyakut anak. Mulai dari konsepsi anak, jumlah anak, pendidikan formal anak, dan kebudayaan yang akan diajarkan pada anak. Dalam menentukan ini tidak jarang keluarga besar dari keduabelah pihak ikut campur tangan. Dan tidak jarang mereka malah menyulitkan pasangan tersebut dalam mengambil keputusan karena semakin banyak pihak yang berkomunikasi dan semakin banyak permintaan serta semakin banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Intinya masalah yang dikomunikasikan akan semakin kompleks. Belum lagi kalau terdapat perbedaan pendapat dari kedua keluarga.

Selain masalah-masalah yang disebutkan diatas, masih banyak hal lagi yang perlu dikomunikasikan dalam rumah tangga. Secara umum, komunikasi yang paling berpengaruh dalam pernikahan adalah ketika menjalani kehidupan sehari-hari, yaitu bagaimana kedua pasangan saling memperhatikan, membuka diri terhadap pasangannya, bagaimana bersikap secara emosional seperti menghibur ketika salah satu memiliki masalah, bagaimana berespon ketika pasangan melakukan hal yang kurang disenangi, dan sebagainya. Poin yang paling penting menurut saya adalah bagaimana berespon terhadap pasangan. Perbedaan suku biasanya membawa pada perbedaan bahasa, sehingga ada istilah yang tidak diketahui pasangan dan ada juga yang sama namun berbeda makna. Jika keduanya tidak saling memahami dan tidak bisa mengomunikasikannya dengan baik, maka kesalahpaham akan terjadi. Kelihatannya sepele, namun sering terabaikan oleh pasangan menikah. Akibatnya tidak hanya sepele, malah hal ini yang sering menjadi dasar masalah besar dalam pernikahan dan tidak jarang berkahir dengan perceraian dengan alasan ‘tidak cocok’. Jika pasangan menikah tidak tinggal serumah, maka kemungkinan masalah biasanya lebih sering (lebih rentan masalah). Salah satu faktornya adalah kurangnya komunikasi. Sesering apapun mreka berkomunikasi lewat telepon atau media online lainnya, itu tidak akan lebih efektif dibandingkan berkomunikasi langsung. Alasannya adalah jika berkomunikasi langsung, komunikasi yang dilakukan tidak hanya secara verbal, namun ada bantuan komunkasi melalui bahasa tubuh/ faktor situasional (seperti petunjuk proksemik dan petunjuk kinestik).

 

 

 

 

BAB IV :

Kesimpulan

Dalam suatu hubungan yang harmonis dan saling membutuhkan, komunikasi yang menyenangkan akan terjadi dengan sendirinya. Baik suami maupun istri selalu ingin berbagi cerita tentang pengalaman, pemikiran, dan perasaan kepada pasangannnya. Komunikasi yang umunya dibicarakan dalam pasangan menikah, termasuk masa persiapan adalah :

! Sosialisasi keluarga dan pemilihan adat ketika resepsi,

! Pengalokasian finansial pada pasangan yang bekerja,

! Kesepakatan tempat tinggal (termasuk jika harus pisah rumah karena tuntutan profesi)

! Konsepsi dan jumlah anak, pendidikan budaya yang diajarkan pada anak.

! Keterbukaan (saling berbagi pengalaman dan saling memberi dukungan)

Agar komunikasi berjalan dengan baik, saling mempelajari gaya komunikasi dalam keluarga pasangan perlu dilakukan. Semakin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyaratisyarat nonverbal, sehingga makin sulit komunikasi dilakukan.                          

 

 

Jatinangor, 29 Maret 2012

   Penulis


 

Daftar Pustaka

  • Myers, David G. 2008. Social Psychology.9th ed. New york : McGraw-Hill
  • Diktat Psikologi Sosial 2
  • EVALINA. 2007. Perkawinan Pria Batak Toba Dan Wanita Jawa Dikota Surakarta Serta Akibat Hukumnya Dalam Pewarisan.Semarang :http://eprints.undip.ac.id/17269/1/EVALINA.pdf diunduh : Selasa, 27 Maret 2012, Pukul 13.00 WIB.

Diunduh : Jumat, 60 April 2012, pukul 22.00WIB

Eating Disorder : Anorexia and Bulimia

Anorexia and Bulimia merupakan ganguan yang melibatkan keinginan patologis untuk tidak mengalami peningkatan berat badan (pemogokan yang tidak seimbang pada wanita).

Anorexia
Aneroxia ditandai dengan adanaya penurunan berat badan ekstrem yang disebabkan oleh diri sendiri paling sedikit 15% dari berat badan minimum seseorang yang normal. Seorang wanita penderita anorexia tidak hanya mengalami penurunan berat badan, tetapi juga berhenti mengalami menstruasi. Penurunan berat badan dapat menyebabkan sejumlah efek samping berbahaya, seperti kurus, rentan terhadap infeksi, dan gejala kurang gizi lainya. Efek samping ini dapat menyebabkan kematian.
Aneroxia relatif jarang terjadi. Pada wanita 20 kali lebih sering terjadi dibandingkan dengan pria (terutama wanita usia belasan tahun dan tiga puluhan). Sebagian besar penderita aneroxia berasal dari kelas menengah sampai atas dan yang berkilit putih. Mereka cenderung menghitung jumlah kalori yang dikonsumsinya dan berolahraga secara berlebihan (olahragawan kompulsif).

Bulimia
Bulimia ditandai dengan mengonsumsi makanan dengan jumlah besar dalam periode waktu tertentu. Makanan tersebut kemudian dimuntahkan dengan cara merangsang muntah atau menggunkan laksatif, sehingga berat badan mereka relatif normal. Bumilia lebih sering terjadi pada wanita muda dan terjadi pada semua kelompok rasial, etnik, dan sosioekonomi. Bumilia lebih sering terjadi dibandingkan dengan aneroxia.
Akibat fisiologis sebagai akibat dari perilaku tersebut dapat mengganggu keseimbangan elektrolit kalium didalam tubuh. Gangguan ini dapat menyebabkan masalah seperti dehidrasi, aritmia jantung, dan infeksi saluran kemih.

Para peneliti mengemukakan beberapa penyebab terjadinya aneroxia dan bumilia, yaitu faktor sosial, biologis, dan faktor kepribadian atau keluarga.

1. Faktor Sosial
Banyak ahli psikologi mengemukakan bahwa faktor sosial dan budaya memiliki peran penting dalam aneroxia dan bumilia, khususnya penekanan masyarakat terhadap kekurusan ideal wanita. Objectification theory adalah sebuah nilai socialcultural yang seharusnya dalam budaya dimana objektifikasi seksual tubuh wanita secara fundamental mengubah pandangan dan kesejahteraan seorang anak perempuan dan wanita. Objektifikasi seksual adalah bentuk dehumanisasi dari hal interpersonal. Hal ini mengurangi kemanusiaan penuh orang pada status obyek untuk kepentingan pengamat.
Teori ini percaya bahwa wanita mempelajari secara mendalam cara pandang objektifitas pengamat terhadap badan mereka. Keasyikan dengan penampilan fisik ini disebut objektifikasi diri (self-objectification), maksudnya sesorang berpikir dan menilai tentang tubuhnya sendiri lebih dari pandangan orang ketiga, berfokus pada hak istimewa, atau atribut tubuh yang tidak teramati. Teori objektifikasi self-objectification menyebabkan berbagai reaksi psikologis dan emosional. Hal ini mengakibatkan wanita cenderung berusaha mengubah bentuk tubuhnya agar ideal sebagaimana orang lain katakan ideal. Misalnya, masa sekarang dipercaya bahwa bentuk tubuh ideal itu seperti bentuk tubuh Atiqah. Maka masyarakat akan menilai bentuk tubuh seorang wanita itu atau tidak dibandingkan dengan Atiqah. Karena itu semua wanita akan berusaha mengubah tubuhnya agar menyerupai bentuk tubuh Atiqah.

2. Faktor Biologis
Sebuah hipotesis mengemukakan bahwa aneroxia disebabkan oleh malfungsi hipotalamus (bagian otak yang membantu proses regulasi makanan), karena kadang-kadang perhentian menstruasi pada penderita aneroxia tidak disebabkan oleh berat badan atau efek sampingnya. Penderita anorexia menunjukkan lemahnya fungsi hipotalamus dan tidaknya normalnya beberapa kimia saraf yang penting untuk memungsikan hipotalamus. Jadi ada kemungkinan hal tersebut merupakan akibat dari malfungsi tersebut mengingat hipotalamus memiliki peran penting dalam pola makan dan fungsi hormonal.
Sama halnya dengan bumilia, mungkin ada kekurangan serotonin di neurotransmitter, yang berperan dalam regulasi suasana hati dan nafsu makan, atau fungsi khusus yang berpengaruh dalam mengambil keputusan dan kontrol diri.

3. Faktor Kepribadian dan Keluarga
Banyak wanita muda yang menderita gangguan pola makan berasal dari keluarga yang menuntut kesempurnaan dan kontrol diri tapi tidak boleh mengekspresikan keramahan dan konflik. Beberapa wanita muda mungkin berusaha untuk menjaga kontrol yang berlebihan dan mengekspresikan bentuk kepedulian terhadap orang tua dengan mengontrol kebiasaan makan, yang kadang-kadang mengakibatkan aneroxia. Beberapa lagi mungkin beralih ke pesta makan saat mereka merasa marah atau sangat emosional dan merasa harga diri mereka rendah.
Terapi dirancang untuk membantu orang dengan gangguan makan untuk kembali pada kebiasaan makan yang sehat dan maupun yang berurusan dengan masalah emosional yang mereka hadapi. Terapi ini telah terbukti berguna. Obat-obatan yang meregulasi jumlah serotonin juga dapat membantu, terutama pada penderita bumilia. Aneroxia dan bumilia adalah penyakit yang serius, Namun penderita seringkali memiliki masalah yang signifikan selama beberapa tahun.

Ngulik Film “Babies”

Image

“Pengaruh Lingkungan terhadap Perkembangan Anak”

Film Babies menceritakan bagaimana lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan anak.Dalam film ini terlihat dominasi faktor lingkungan (pengasuhan) dalam perkembangan  anak.Masing-masing anak (barat,afrika,jepang,mongol) di didik dengan cara yang berbeda dalam  budaya yang berbeda,sehingga mereka punya proses belajar yang berbeda pula dalam beradaptasi dengan lingkungannya.

Gaya asuh dari keempat anak dalam film ini sangat berbeda,sehingga perkembangan yang terjadi tidak hanya berbeda secara motorik tapi juga mental dan kognisi anak.Perbedaan ini terlihat jelas pada anak yang diasuh di budaya Afrika dan budaya Jepang.Pada usia tertentu,anak dari Afrika sudah bisa berdiri dan berjalan,sementara anak dari Jepang belum bisa melakukan hal yang sama walaupun usia mereka sama.Selain itu,Anak dari Afrika dekat dengan binatang (tidak takut pada binatang) karena sejak kecil ia sering berinteraksi dengan binatang dan alam,sementara anak dari Jepang sangat takut pada binatang.

Berbeda  halnya dengan anak yang diasuh dalam budaya Barat.Mereka diasuh dengan sangat individualis tetapi keterampilan motoriknya tetap dilatih secara aktif.Ia juga mendapat perhatian yang cukup dari keluarganya,sehingga perkembanganya benar-benar diperhatikan.

Anak yang paling unik menurut saya adalah anak dari Mongol.Dia diasuh dengan keras dan sedikit mendapat perhatian dari orangtuanya.Ia tidak diajari untuk melakukan apa-apa.Ia mampu belajar sendiri melalui pengalaman visualnya (melihat aktivitas orang) dan kemudian ia mencobanya sendiri walaupun memang perkembangannya cukup lambat.

Perspektif Psikologi dan Bidang dalam Psikologi

Psychology : The Study Of Mental Processes And Behavior

Kasus Susan yang mengalami penurunan IQ dari 120 menjadi 70 dikarenakan oleh ibu Susan tidak telah meninggalkan dan tidak tinggal bersamanya selama kurang lebih 5 tahun. Keadaan Susan kembali membaik setelah ibunya kembali. Ini merupakan kasus yang sangat jarang terjadi karena perubahan lingkungan menyebabkan peningkatan fungsi otak.

Manusia adalah makhluk yang rumit. Dalam persimpangan kebudayaan dan biologi terletak psikologi yang secara sistematis mempelajari proses psikis dan perilaku.

1.1  Perbatasan dan batas-batas dari psikologi

Biologi dan budaya membangun baik peluang dan kendala di mana orang berpikir, merasa dan bertindak tetapi potensi manusia ditentukan oleh struktur otak.

1.1.1  Dari pikiran ke otak-Perbatasan dengan alam

Perbatasan biologis dari psikologi adalah bagian dari biopsikologi yang menyelidiki fisik dasar dari fenomena psikologi seperti motivasi, emosi, dan tekanan. Dalam bidang ini neuropsikologi dan ilmuwan saraf fokus dalam hubungan antara kerja dari otak dan proses psikis dan perilaki. Meskipun mempelajari pikiran, perasaan, ketakutan, atau harapan, iluwan saraf menyelidiki proses elektrik dan kimiawi dalam sistem saraf yang mendasari kejadian psikis itu.

1.1.2  Pandangan global-Perbatasan dengan kebudayaan

Kebudayaan dan interaksi dengan orang lain mempengaruhi terbentuknya kepribadian seseorang.

Antropolog psikologis : mempelajari fenomena psikologis dalam kebudayaan yang berbeda, dengan mengobservasi orang sebagai perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari mereka.

1950, ketertarikan dalam hubungan antara kebudayaan dan atribut psikologis semakin berjurang selama beberapa dekade. Bebrapa peneliti mengembangkan psikologi lintas budaya yang berusaha untuk mengetes hipotesis psikologis di budaya-budaya yang berbeda. Perbandingan lintas budaya dapat membedakan antara proses psikologis yang universal dan spesifik.

1.1.3  Akar-akar psikologis dari pertanyaan pertanyaan psikologis

Psikologi lahir dari peranakan filosofi.

Salah satu pertanyaan yang termasuk pertanyaan filosofi dalam psikologi adalah apakah tindakan manusia merupakan hasil dari keinginan sendiri atau tidak. Belum pernah ada yang menawarkan solusi yang bail untuk mind-body problem (pertanyaan bagaimana psikis dan fisik berhubungan).

1.2  FUNGSI PERSPEKTIF DALAM PSIKOLOGI

Kita telah menguji keterikatan antara Psikologi dengan Biologi dan kebudayaan, dimana memberikan konteks bagian dalam dan bagian luar proses mental dan perilaku, dan telah dieksplorasi cara pembatasan pertanyaan-pertanyaan pada filosofi. Sekarang kita bergerak ke dalam dari batasan untuk menguji teori perspektif yang menjadi pemandu cara para psikolog membuat pertanyaan-pertanyaan dan usaha untuk menjawabnya.

Para psikolog dalam beberapa cara sama seperti para pria yang buta, bersusah payah dengan instrumen yang tidak sempurna untuk mencoba memahami hewan buas yang kita sebut dengan sifat dasar manusia dan secara khusus hanya memegang suatu bagian dari hewan ketika mencoba untuk memahami secara keseluruhan. Keempat perspektif yang menjadi pemandu pemikiran secara psikologi, terkadang memberikan persaingan dan terkadang saling mengisi dalam kerangka kerja atau sudut pandang pada fenomena dari kekacauan kepribadian antisosial sampai kepada cara orang-orang membuat keputusan ketika memilih jodoh.

   Perspektif-perspektif ini mirip dengan banyak penghormatan terhadap perspektif dengan cara intuisi yang orang-orang gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Gestalt, orang yang mempercayau bahwa persepsi bukanlah melalui pengalaman yang pasif, dimana orang mengambil potret fotografi rincian dari dunia di sekitar mereka. Melainkan, mereka berdebat, persepsi adalah sebuah pengalaman aktif yang mengesankan suatu perintah pada sebuah panorama yang besar sekali secara rinci dengan melihatnya secara sebagian dari keseluruhan yang lebih besar.  

Cara orang-orang memahami fakta spesifik atau rincian tergantung pada interpretasi mereka mengenai objek secara keseluruhan.

Perspektif pada Psikologi sama dengan lensa yang tidak sempurna, dimana yang satu dapat melihat beberapa aspek secara nyata. Seringkali terlalu cekung atau cembung, sering membuat pemakainya buta mengenai data pada sekeliling pemahaman mereka, tetapi tanpa lensa tersebut kita akan menjadi buta total.

Hubungan antara “kenyataan” dan interpretasi pengetahuan dideskripsikan secara panjang lebar oleh Thomas Kuhn, ahli filsafat ilmu pengetahuan. Kuhn telah mengobservasi bahwa ilmu pengetahuan tidak bertambah melalui akumulasi fakta-fakta sebanyak yang telah dipercayai. Melainkan, ilmu pengetahuan bertambah berdasarkan perkembangan yang baik dan paradigma yang lebih baik. Paradigma adalah sebuah sistem yang luas mengenai asumsi teori dimana komunitas ilmuwan digunakan untuk membuat perasaan dari sebuah pengalaman.

Paradigma memiliki beberapa kunci komponen. Pertama, memasukkan sekumpulan tuntutan teori yang memberikan sebuah model atau gambaran abstak dari objek pembelajaran. Kedua, memasukkan sekumpulan kiasan yang membandingkan objek investigasi dengan yang lain yang sudah dipahami. Ketiga, memasukkan sekumpulan metode-metode dimana anggota-anggota komunitas ilmuwan akan setuju, jika digunakan sebagaimana mestinya, hasilnya valid, dan datanya berguna.

Berdasarkan penjelasan Kuhn, Psikologi berbeda dari ilmu pengetahuan alam dimana kekurangan paradigma dimana sebagian besar komunitas ilmuwan setuju.  Malahan, Ia mengemukakaka, ilmu pengetahuan sosial masih terbagi menjadi beberapa pemikiran, atau yang biasa kita sebut dengan perspektif. Perspektif biasanya memandu pada investigasi secara psikologi.

Pada bagian ini, kita akan menguji psychodynamic, behaviorist, cognitive, and evolutionary perspectives. Keempat hal ini niscaya suatu hari akan mengkontribusikan  kepada integrasi paradigma.  

1.2.1 PERSPEKTIF PSIKODINAMIK

Perspektif Psikodinamik mengembangkan pendekatan untuk memahami fenomena kelainan psikologis yang kemudian dikenal sebagai Psikoanalisis.

Teorinya menekankan pada psikodinamika, yakni “the dynamic interplay of mental forces”.

Beberapa asumsi dasar dari psikodinamika, yaitu:

  1. Perbuatan manusia ditentukan oleh cara pikiran, perasaan, dan kehendak terhubung dalam jiwa
  2. Banyak peristiwa mental terjadi diluar kesadaran (tak tersadari)
  3. Dalam sebuah ungkapan: “Unconscious motives may be out of sight, but they are not out of mind”

Proses mental ini bisa jadi berseberangan antara satu dengan lainnya hingga berlangsung kompromi antar-motif yang bersaing.

Asal Usul Pendekatan Psikodinamik

Freud meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, impuls, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu – waktu akan menuntut untuk dipuaskan.

Perkembangan Pendekatan Psikodinamik

Freud menganalogikan motivasi sadar seperti ujung gunung es yang kelihatan dan motivasi pikiran tak sadar itu seperti kapal selam di bawah laut. Freud menegaskan bahwa keinginan sadar seseorang mungkin mencerminkan konflik dan kompromi yang tidak sadar.

Metode dan Data Perspektif Psikodinamik

Pemahaman psikodinamik beusaha untuk menafsirkan makna, yaitu, untuk menyimpulkan keinginan yang mendasari rasa takut, perilaku dan pola pikir sadar seseoang. Psikodinamika menginterpretasikan makna-makna dengan memakai segala macam bentuk informasi. Hal ini didasari asumsi bahwa seseorang menampakkan dirinya sendiri dalam segala sesuatu yang diperbuatnya. “People reveal themselves in everything they do”.

1.2.2 PERSPEKTIF PERILAKU

Behaviorisme berfokus pada hubungan antara objek atau kejadian di dalam lingkungan (stimuli) dengan organisme yang merespon kejadian itu. Secara sederhana dapat digambarkan dalam model S – R atau suatu kaitan Stimulus – Respon. Ini berarti tingkah laku itu seperti reflek tanpa kerja mental sama sekali.

Asal Usul Pendekatan Perilaku

Behaviorisme jejak akarnya ada di awal abad ke-20, saat banyak psikolog menekankan analisis diri proses mental (introspeksi) atau teori psikoanalisis Sigmund Freud. Sebaliknya, peneliti seperti Ivan Pavlov dan John B. Watson mulai mengembangkan kerangka kerja yang menekankan proses-proses yang dapat diamati (rangsangan lingkungan dan tanggapan perilaku). Hasilnya adalah sebuah pendekatan baru, behaviorisme, yang tumbuh populer selama lima puluh tahun, menjadi kerangka kerja yang dominan untuk penelitian eksperimental.

Dasar filosofis awal untuk belajar perspektif kepribadian adalah filsuf Inggris, John Locke (1632-1704) yang memandang bayi yang baru lahir sebagai sebuah batu tulis kosong – tabula rasa – pada siapa pengalaman hidup akan menulis cerita tertentu. Ia kemudian mengklaim bahwa jika ia diberi 12 bayi sehat saat lahir, ia bisa mengubahnya menjadi apa pun yang ia inginkan, hanya dengan mengendalikan lingkungan mereka. Akar filosofis ini berseberangan dengan dualismenya Rene Descartes, yang percaya bahwa jiwa memiliki kebebasan untuk berfikir dan memilih, sementara tubuh dikuasai oleh hukum-hukum alam.

Lingkungan dan Perilaku

Melalui eksperimentasinya sampai pada simpulan bahwa perilaku dibentuk atau hasil dari suatu proses belajar. Di sini terdapat penekanan pada hubungan antara obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa (stimuli) dengan respon suatu organisme (hewan atau manusia) terhadapnya. Jadi, perilaku organisme dapat dikontrol oleh kondisi lingkungan. Setiap perubahan lingkungan, baik menguat (reinforce) maupun menurun (punish), bisa memberi dampak pada perubahan perilaku.

Perkembangan, Metode, dan Data Behaviorisme

“There is no place in a scientific analysis of behavior for a mind or self”. Jadi ibarat sebuah kotak hitam, stimulus masuk kedalamnya dan respon kemudian keluar darinya. Adapun mekanisme yang terjadi dalam kotak tidaklah dapat diobservasi dan karenanya bukan urusan behavioris.

Metode utama dalam behaviorisme adalah metode eksperimental. Metode ini membutuhkan hipotesis/prediksi tentang persitiwa utama tertendu dalam lingkungan yang akan mempengauhi peilaku, lalu menguji hipotesis tersebut di laboratuium.

1.2.3 PERSPEKTIF KOGNITIF

Pendekatan ini menekankan bahwa tingkah laku adalah proses mental, dimana individu (Organisme) aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Jika dibuatkan model adalah sebagai berikut S – O – R. Individu menerima stimulus lalu melakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang.

Asal Usul Perspektif Kognitif

Berakar pada filosofi rasionalistik, percaya bahwa akal dapat menciptakan pengetahuan. Sekalipun konsep awalnya berasal dari pengalaman, tetapi seringkali ia berbeda dari tanggapan semula. Artinya, ada proses mental dimana konsep yang abstrak dikonstruksikan.

Perkembangan, Metode, dan Data Psikologi Kognitif

Jika behavioris menolak mentah-mentah konsep jiwa dengan kotak hitamnya, maka aliran kognitif memasukkan program ke dalam kotak hitam itu. Layaknya sebuah komputer, maka lingkungan menyuplai input, yang kemudian ditransformasikan (menjadi konsep/kategori), disimpan, dan selanjutnya diretrivasi menggunakan beragam program mental hingga keluar respon sebagai ouput-nya.

Metode utama yang digunakan oleh perspektif kognitif adalah eksperimental. Psikolog kognitif menggunakan prosedur eksperimen untuk menyimpulkan proses pikiran saat bekerja.

Psikoloh kognitif cenderung mempelajari proses, seperti ingatan dan pemahaman dalam pengambilan keputusan yang melibatkan emosi dan motivasi.

Dalam penelitiannya, aliran ini memandang bahwa cara orang berfikir dan konsep-konsep yang mereka pegang tentang keadaan takut atau senang, memainkan peran substansial dalam pembentukan emosi.

1.2.4 PERSPEKTIF EVOLUSIONARIS

Psikologi evolusionaris menjelaskan ciri-psikologis seperti memori, persepsi, atau bahasa-sebagai adaptasi, yaitu sebagai produk fungsional dari seleksi alam atau seleksi seksual. Perspektif evolusioner berpendapat bahwa kecenderungan perilaku manusia, mulai dari makan sampai memperhatikan anak-anak mereka, telah berubah menjadi umum dalam populasi manusia karena mereka membantu nenek moyang mereka bertahan dan menghasilkan keturunan yang diharapkan dapat tetap bertahan pula.

Asal Usul Perspektif Evolusionaris

Akar filosofinya dari ajaran Charles Darwin yang menyatakan bahwa spesies yang ada merupakan produk dari jutaan tahun proses evolusi yang berlangsung melalui mekanisme seleksi alam, dimana hanya organisme yang mampu beradaptasi dengan perubahan yang akan bertahan hidup.

Ethologi, Sosiobiologi, dan Psikologi Evolusionaris

Evolusionaris menyimpulkan bahwa transmisi genetik dari orang tua atau induk kepada anak keturunannya tidak hanya terbatas pada aspek fisik (physical traits) tetapi juga kecenderungan mental dan perilaku (behavioral and mental tendencies). Evolusionaris pun memandang bahwa otak manusia, seperti halnya mata dan hati, telah terdesain secara alamiah untuk menyelesaikan problematika tertentu termasuk masalah reproduksi dan keberlangsungan hidup (survival and reproduction), misal memilih pasangan, memakai bahasa, bersaing memperebutkan sumberdaya yang ada, bekerjasama dengan teman, tetangga, atau mitra koalisi.

Metafora, metode dan data dari perspektif evolusioner

Metafora : hidup seperti perlombaan untuk kelangsungan hidup dan reproduksi. Metode evolusioner yang sering digunakan adalah penjelasan deduktif yang diawali dengan mengobservasi dari sesuatu yang sudah ada di alam dan mencoba untuk menjelaskan dengan argumen logis dengan eksperimen terbatas.

1.3  Menempatkan perspektif psikologi dalam perspektif

Apa yang diobservasi psikolog tidak hanya ditentukan oleh realitas di luar sana tetapi juga oleh lensa konseptual yang mereka pakai. Dalam setiap kasus harus digunakan berbagai perspektif agar tidak terjadi kesalahpahaman. Melihat melalui berbagai macam perspektif akan lebih baik daripada hanya melalui satu perspektif.

1.3.1  Psikologi dari psikologi

Psikolog psikodinamik : menekankan dasar perbedaan antara orang yang lebih memilih untuk bekerja bersama pasien untuk memahami gejala-gejala mereka dan yang lebih memilih untuk belajar perilaku melalui eksperimen. Psikolog psikodinamik juga menekankan psikolog untuk menemukan perspektif berbeda yang menarik. Behaviorist : mengajar psokolog untuk belajar membuat penyelesaian mereka sendiri. Dari perspektif kognitif : psikolog berpegang teguh dengan perspektif yang mereka senangi bahkan jika ada ketidaksesuaian Psikolog evolusioner : sistem kognitif manusia itu sendiri adalah salah satu produk evolusi.

Melalui biopsikologi mereka akan menemukan perbedaan dalam kekuatan, kelemahan dan kebiasaan yang akan mempengaruhi cara pikir psikolog mengenai isu-isu dan berbagai perspektifi yang menarik. Dari sudut kebudayaan, keyakinan psikolog tidak dapat dipisahkan dari pergerakan dan ideologi yang lebih luas.

1.3.2  Macam-macam psikologi

Psikologi perkembangan : mempelajari cara mengembangkan pola pikir, perasaan, dan perilaku dari bayi sampai mati.

Psikologi social : membahas interaksi psikologis perseorangan dan fenomena social.

Psikologi klinis : fokus kepada alam dan perawatan melalui proses psikologis yang mengarah ke gangguan emosi.

Psikologi industri/organisasi : membahas tingkah laku manusia di organisasi dan mancoba untuk memecahkan masalah organisasi.

Psikologi pendidikan : membahas proses psikologis dalam ketidakmampuan belajar, menerapkan pengetahuan psikologis dalam pengaturan pendidikan.

Psikologi kesehatan (yang sedang berkembang pesat) : membahas faktor psikologis yang menyangkut kesehatan dan penyakit.

Kategori dalam Filsafat

Kategori dalam Filsafat

“Kamu belajar bukan dari apa yang kamu baca atau apa yang kamu alami, tapi dari apa yang kamu PIKIRKAN dari apa yang kamu baca dan apa yang kamu alami”.