BAB I

Pendahuluan

Latar Belakang

Sudah menjadi kodrat alam, sejak dilahirkan kedunia manusia ditakdirkan untuk saling berpasang-pasangan agar hidup bersama untuk membentuk suatu keluarga dalam ikatan suatu pernikahan. Tujuan dari ikatan penikahan tersebut adalah untuk mencapai keluarga yang sakral, penuh kasih sayang; kebajikan dan saling menyantunin, membangun, membina, dan memelihara hubungan kekerabatan.

Pelaksanaan pernikahan diperlukan suatu lembaga pernikahan yang mengatur hubungan antara suami-istri secara yuridis maupun religius, sehingga hubungan tersebut sah menurut agama, hukum, dan tidak melanggar norma-norma hukum kebiasaan yang berlaku di kalangan masyarakat. Pelaksanaan pernikahan tersebut diadakan dalam sejumlah rangkaian upacara pernikahan secara adat yang dipertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat. Bentuk dan tata cara pernikahan tiap daerah berbeda yang pada umumnya dipengaruhi oleh sistem kekerabatan masyarakat hukum adat setempat.

Kebanyakan orang melihat penikahan campuran cenderung negative, tidak dapat diterima, dan tidak normal. Orang Asia-Amerika, mengalami kesulitan dalam pernikahan campuran dibandingkan pada kelompok etnis lain di Amerika.  Dulu, Hukum yang melarang pernikahan antarras antara orang Asia dan Kaukasia cukup umum di Amerika. Setelah perang dunia II, pernikahan antara tentara orang Amerika dengan orang Asia  (khususnya perempuan dari  Jepang, Korea Selatan, Philipina dan Vietnam) kian tinggi. Umumnya pernikahan tersebut terjadi karena mereka memiliki keberanian dan keoptimisan dalam menghadapi kesulitan yang mereka hadapi atas perbedaan budaya, bahasa serta kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat kedua negara. Selain itu, yang paling berat tentunya pada perbedaan budaya diantara keduanya. Satu lagi alasan penting pernikahan campuran Asia-Amerika pada masa perang dunia II adalah karena kurangnya pasangan dari suku sendiri, yaitu kurangnya wanita yang akan dijadikan pasangan.

Di Indonesia juga terjadi hal yang serupa. Ketika kaum imigran dari Cina datang berbondong-bondong ke Indonesia, umumnya mereka adalah laki-laki yang ingin mencari kehidupan lebih baik. Banyak di antaranya yang mengambil perempuan pribumi menjadi istri. Buahnya, lahir suatu keturunan yang lazim disebut “kaum peranakan Cina”, yaitu campuran antara Cina totok dan Pribumi. Refleksi yang sama juga dapat dilihat pada tingginya pernikahan antarsuku di Indonesia. Kita tahu bersama Indonesia merupakan negara yang terdiri dari banyak perbedaan. Salah satu perbedaan yang mencolok adalah perbedaan suku. Kini, Indonesia telah hidup bukan terpisah satu suku dengan lainnya. Suku-suku tersebut kini telah membaur. Pembauran itu tentu saja juga dapat menimbulkan rasa saling suka di antara para kaum mudanya. Rasa suka ini kemudian berlanjut ke hubungan yang serius, terutama bagi mereka yang tinggal di Jakarta. Mereka mungkin biasanya kesulitan memilih pasangan dari sukunya sendiri.

Setiap orang tua dari semua suku akan mengajarkan norma-norma budaya yang berlaku dan yang  di jaga kuat oleh suku mereka kepada anak-anaknya. Dengan kata lain, anak di didik dengan nilai dan pola pikir sesuai budaya yang dipegang. Setiap budaya memiliki nilai tersendiri. Perbedaan inilah yang sering menjadi masalah ketika berelasi di masyarakat. Jika terjadi pernikahan antara pasangan yang berbeda suku, maka kemungkinan munculnya konflik akan lebih besar. Konflik yang muncul tidak hanya ketika meminta restu dari orang tua, tapi juga ketika menjalani kehidupan dalam rumah tangga.

Dalam makalah ini akan dibahas bagaimana proses komunikasi yang terjadi dalam pernikahan beda suku, dan bagaimana peran atau pengaruh komunikasi dalam pernikahan mereka.

BAB III : Pembahasan

Komunikasi Antarbudaya dalam Pernikahan Beda Suku

Realitas budaya berpengaruh dan berperan dalam komunikasi. Terdapat koordinasi antara budaya dengan komunikasi, budaya mempengaruhi komunikasi dan komunikasi mempengaruhi budaya. Ringkasnya, budaya diciptakan, dibentuk, ditransmisikan dan dipelajari melalui komunikasi; sebaliknya praktik-praktik komunikasi diciptakan, dibentuk  dan ditransmisikan melalui budaya (Rahardjo, 2005: 49-51). Dengan kata lain, komunikasi itu terikat oleh budaya. Cara-cara kita berkomunikasi, keadaan-keadaan komunikasi kita, bahasa dan gaya bahasa yang kita gunakan dan perilaku-perilaku nonverbal kita, semua itu terutama merupakan fungsi dan respons kita terhadap budaya kita.  Karakteristik bahasa memengaruhi proses kognitif kita. Dan karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda dalam hal karakteristik semantik dan strukturnya, tampaknya masuk akal untuk mengatakan bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga akan berbeda dalam cara mereka memandang dan berpikir tentang dunia.

Komunikasi menuntun kita untuk bertemu dan bertukar simbol dengan orang lain, sehingga kita dituntut untuk memahami orang lain yang berbeda budaya. Kemiripan budaya dalam persepsi memungkinkan pemberian makna yang mirip pula terhadap suatu objek sosial atau suatu peristiwa. Sebagaimana budaya berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, maka praktik dan perilaku komunikasi individu-individu yang diasuh dalam budaya-budaya tersebut akan berbeda pula.

Memahami budaya yang berbeda dengan kita bukanlah hal yang mudah, karena kita dituntut untuk mau mengerti realitas budaya orang lain. Dalam proses memehami ini, tidak jarang terjadi prasangka terhadap suku yang berbeda. Prasangka terhadap suku merupakan sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain. Prasangka etnik didalam suatu masyarakat bisa dilihat melalui ada tidaknya stereotip etnis negatif yang berkembang di masyarakat. Stereotip-stereotip negatif yang dilekatkan pada etnik tertentu merupakan wujud dari adanya prasangka. Prasangka-prasangka suku maupun ras telah begitu mendunia bagaikan penyakit menular yang sangat berbahaya. Prasangka ini biasanya diperoleh anak-anak melalui proses sosialisasi. Anak-anak banyak yang menginternalisasikan norma-norma mengenai stereotipe dan perilaku antar kelompok yang ditetapkan oleh orang tua dan teman sebaya. Selain dari orang tua dan teman sebaya, media massa juga menjadi sumber anak untuk mempelajari stereotipe dan prasangka.

Pengertian Suku, Pernikahan, dan Pernikahan Beda Suku

Etnosentris/ etnik atau suku bangsa adalah suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama. Identitas suku pun ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas kelompok tersebut dan oleh kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku atau ciri-ciri biologis. Biasanya orang sangat fanatik terhadap suku yang ia anut. Kefanatikan terhadap suku cenderung lebih tinggi dibandingkan kefanatikan terjadap ras.

Pengertian pernikahan (perkawinan) menurut Pasal 1 UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan : Perkawinan ialah ikatan batin antara seorang pria dengan seorang wanita, sebagai suami istri dengan membentuk kelaurga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa. Sedangkan menurut Soerojo Wignjodipoero Perkawinan adalah suatu pristiwa yang sangat penting dalam penghidupan masyarakat, sebab perkawinan tidak hanya menyangkut wanita dan pria bakal mempelai saja, bahkan keluarga kedua mempelai.

Pernikahan beda suku merupakan pernikahan antara seorang pemuda dari suku tertetu denga pemudi dari suku lainnya. Singkatnya, pernikahan antara dua orang yang berasal dari budaya yang berbeda. Perkawinan beda budaya sudah menjadi fenomena yang terjadi pada masyarakat modern dan dampak dari semakin berkembangnya sistem komunikasi yang memungkinkan individu untuk mengenal dunia dan budaya lain.

 

Komunikasi PraNikah

Dulu masing-masing suku tinggal di daerah atau negerinya masing-masing. Terpencarnya manusia dalam beragam wilayah, telah membuat mereka mengembangkan sistem budaya secara tersendiri. Berkat kemajuan dan perkembangan zaman, banyak orang yang merantau, pergi meninggalkan daerahnya (kampung halamannya) untuk mencari kehidupan yang lebih baik atau untuk menuntut ilmu, di negeri orang. Pada zaman ini, orang dari berbagai sukubangsa sudah sering saling bertemu dan bergaul. Kota-kota besar telah menjadi tempat berkumpulnya orang dari berbagai suku maupun ras. Pertemuan orang dari latarbelakang suku dan budaya yang berbeda dapat terjadi di mana saja; misalnya sekolah, kampus, tempat kerja, tempat rekreasi, dan tempat ibadah. Termasuk pertemuan dengan lawan jenis yang berbeda suku maupun ras telah menjadi hal yang tak terhindarkan.

Setiap masyarakat suku bangsa memiliki budaya yang berbeda dengan suku lainnya. Biasanya budaya yang berbeda-beda inilah yang menjadi faktor kunci dalam pernikahan antar suku. Penerimaan terhadap budaya suku lain akan membuat seseorang berpeluang besar diterima oleh keluarga besar calon pasangannya. Mereka akan merasa bahwa budayanya diterima dan dihargai. Hal sebaliknya dapat terjadi, yaitu apabila seseorang resisten dan menolak budaya calon pasangannya. Sebagai contoh, apabila seseorang hendak menikah dengan pasangan yang berasal dari suku Jawa, maka sangat besar harapan dari keluarga pasangannya itu bahwa pernikahan  akan dilaksanakan menurut budaya mereka.

Latar belakang suku dan keluarga sangat berpengaruh pada gaya komunikasi dan nilai-nilai penting dalam pernikahan. Biasanya  keluarga mengingginkan anggotanya menikah dengan orang yang berasal dari suku yang sama. Alasanya adalah kesesuaian nilai dan cara hidup/adat istiadat yang sama, sehingga  penyesuaian masuk ke lingkungan keluarga yang baru itu tidak terlalu rumit. Tujuannya adalah menghindari kesalahpahaman yang menyebabkan perpecahan dan pertengkaran. Namun, ketika seseorang memutuskan untuk menikah dengan seseorang yang berasal dari budaya (suku) yang berbeda, maka ia berperan untuk meyakinkan anggota keluarganya agar menyetujui pernikahannya. Peran ini tentunya akan lebih sulit, karena ia tidak hanya sekedar memberitahukan mengenai hubunganya dan rencana menikah dengan pasangan dari suku lain, namun harus mampu mempengaruhi keluarga besarnya untuk menerima pasangannya. Apalagi jika pada awalnya keluarga kurang mendukung  hubungan beda suku. Dalam hal ini, ia harus memiliki kemampuan komunikasi persuasif agar rencananya direstui oleh keluarga besarnya. Restu ini dapat diperoleh apabila ia mampu merubah opini keluarga mengenai suku pasangannya, sehingga sikap keluarga terhadap suku pasangannya berubah dan akhirnya keluarga bertindak dengan memberi restu dan mau menyiapkan acara pernikahan.

Permasalahan tidak sekedar meyakinkan keluarga sendiri untuk mau menerima pasangan. Masalah lain adalah apakah kita diterima di keluarga pasangan kita atau tidak dan apakah keluarga kita dengan keluarga pasangan kita “cocok”. Artinya, banyak hal yang perlu dipersiapkan dan dibicarakan sebelum acara pernikahan dilakukan. Posisi kita di keluarga pasangan tergantung dari seberapa dekat kita dengan mereka dan persepsi mereka mengenai suku kita. Menjalin relasi yang baik dengan keluarga pasangan adalah satu langkah yang mutlak dilakukan. Kalaupun pada awalnya mereka mempunyai persepsi negatif (prasangka) terhadap suku kita, mungkin saja sikap dan perilaku kita mampu mengikis prasangka tersebut. Hal ini tentunya mempermudah proses persiapan pernikahan yang kita rencanakan. Sehingga jelas bahwa komunikasi dengan keluarga pasangan (kelompok suku yang berbeda) sangat dibutuhkan untuk membentuk relasi,  karena dapat mengubah opini, dan sikap mereka terhadap kita, sehingga aksi yang kita harapkan dari mereka dapat terwujud.

Hal yang sama juga berlaku dalam relasi antara keluarga kedua pasangan. Dalam interaksi antar keluarga bisa terjadi proses komunikasi antarkelompok (antar suku). Topik komunikasi dalam persiapan pernikahan biasanya mengenai adat yang akan dilakukan dalam resepsi pernikahan, apakah sesuai budaya dari suku pihak laki-laki atau dari suku pihak perempuan, atau bahkan keduanya. Masalah pemilihan budaya ini yang paling sering menjadi masalah dalam persiapan pernikahan beda suku, apalagi kalau terdapat keterbatasan finansial.Jika komunikasi ini baik, maka di antara kedua keluarga akan terjalin relasi yang lebih baik, sehingga bisa diprediksikan bahwa tidak ada masalah (masalah terkait suku) dalam persiapan pernikahan.

 

Alasan Menikah Beda Suku

Pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang berbeda kebudayaan (pernikahan campuran) tidaklah gampang dan berjalan mulus, banyak tantangan yang harus mereka hadapai ketika mereka memutuskan untuk menikah. Kemesraan hubungan pertemanan dapat menjadi awal pernikahan campuran. Kaum perempuan memilih menikah dengan pasangan campuran karena merasa memiliki minat yang sama dengan pasangannya. Ketertarikan fisik, kesukaan akan hiburan yang sama dan bahkan kesamaan sosial ekonomi juga merupakan alasan pemilihan pasangan. Alasan yang menyebut tertarik karena ’ras pasangan’ cenderung kurang dibandingkan karena alasan ’nonras’ (Lewis, Yancey, and Bletzer 1997).  Artinya, sama seperti pasangan pada umumnya, pasangan pernikahan campuran tertarik pada pasangannya karena memandang atas kesamaan diantara mereka, dibandingkan atas perbedaannya.

Alasan lain yang juga unik dan kerap disampaikan adalah ‘perbaikan keturunan’. Mungkin saja terjadi karena ada perasaan superioritas dari etnis tertentu atau yang biasa disebut etnosentrisme. Pernikahan beda suku (lintas budaya) memiliki sisi positif dalam hal keturunan yang dilahirkan. Dari studi kesehatan, ketika gen-gen yang berbeda dipertemukan, maka akan terjadi sintesis mutualisme dalam pembentukan generasi unggul yang lebih kuat secara gen. Bentuk dari keunggulan tersebut adalah lahirnya anak-anak yang memiliki intelegence yang lebih baik dan secara fisik memiliki ketahanan tubuh dari penyakit-penyakit lebih kuat serta memiliki fisik yang lebih bagus.


 

Komunikasi Setelah Pernikahan

Perempuan dan lelaki memiliki perbedaan dalam pola pikir dan gaya komunikasi. Umumnya lelaki lebih praktis, artinya tidak terlalu memikirkan detil dan mencari solusi berdasarkan fakta-fakta. Mereka tidak terlalu peduli pada pendapat orang lain. Sementara perempuan lebih memikirkan detil, mempertimbangkan bagaimana pendapat orang lain terhadap tindakannya, dan seringkali melibatkan emosi dalam mengambil keputusan. Cara berpikir ini tampak pula dalam gaya komunikasi mereka. Perempuan sangat suka “curhat” panjang lebar tentang perasaan mereka, sementara lelaki lebih sedikit bicara dan langsung mencari solusi dari suatu permasalahan

Selain faktor gender/jenis kelamin, perbedaan latar belakang budaya seseorang dan pasangan bisa juga menjadi faktor yang menimbulkan kesenjangan dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan  adalah menikah beda budaya (suku) membutuhkan pemahaman terhadap pasangannya. Latar belakang suku dan keluarga sangat berpengaruh pada gaya komunikasi dan nilai-nilai penting dalam pernikahan. Misalnya salah satu suku ada yang menganut  sistem keluarga patriarkal.  Sistem ini menuntut seorang istri untuk tidak pernah membantah dan selalu menuruti apa pun perkataan suami. Hal ini merupakan salah satu penghambat terbukanya ruang komunikasi dalam rumah tangga. Padahal, keberanian untuk mengomunikasikan berbagai hal kepada pasangan justru merupakan hal yang penting karena termasuk bentuk kepedulian atas kelanggengan rumah tangga. Jika suami menganut sistem Patriarkal, maka komunikasi yang terjadi hanya satu arah, tidak akan pernah ada feedback terhadap apa yang dikomunikasikan. Hal yang terburuk adalah ketika sang istri salah mempersepsi arti/maksud dari suami dan tidak boleh ada feedback, akibatnya kesalahan yang fatal tidak terelakkan. Sang suami bisa saja marah besar, dan sang istri merasa diperlakukan semena-mena.

Permasalahan utama dalam komunikasi pasangan beda suku adalah penyesuaian pola komunikasi yang menuntut saling pengertian antara satu dengan yang lain, karena berasal dari budaya yang berbeda.   Jika tidak ada saling pengertian antara pasangan beda suku ketika kedua jenis budaya ini bersatu, maka seringkali muncul miss-communication. Seringkali terdapat perbedaan dalam mempersepsi sesuatu akibat cara pandang yang berbeda. Perbedaan persepsi ini akan berlanjut pada perbedaan sikap, bahkan perilaku. Hasilnya, muncul “percekcokan”. Akibat terburuknya adalah muncul konflik antara kedua pihak tersebut dan berakhir dengan perceraian.

Semakin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat nonverbal, sehingga makin sulit komunikasi dilakukan. Kesulitan ini dapat mengakibatkan lebih banyak kesalahan komunikasi, lebih banyak kesalahan kalimat, lebih besar kemungkinan salah paham dan makin banyak salah persepsi. Jika hal ini diaplikasikan ke dalam dunia pernikahan (rumah tangga), maka semakin banyak perbedaan budaya anatara kedua pasangan, semakin sulit adaptasi dalam menjalani pernikahan. Selain itu semakin banyak perbedaan diantara keluarga besar kedua pasangan, maka kesulitan beradaptasi akan semakin meningkat, karena pada dasarnya keluarga besar (keluarga suku) sangat berpengaruh pada individu. Hal ini mnegindikasikan bahwa masalah dalam pernikahan akan lebih kompleks, apalagi kalau komunikasi tidak sehat. Untuk itu, saling pengertian akan budaya masing-masing mutlak diperlukan untuk meminimalisasi hal tersebut, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa saling memahami kebudayaan pasangan tidak menjamin terbebas dari kesalahpahaman (munculnya rasa tersinggung) pada pasangan yang berbeda kebudayaan.

Setelah menikah, pada pasangan yang sama-sama bekerja awalnya akan membicarakan mengenai keuangan. Karena keduanya akan memiliki penghasilan tersendiri, maka pengalokasiannya perlu dibicarakan secara tuntas akan tidak terjadi kesalahpahaman. Selain itu dalam menentukan lokasi tempat tinggal juga perlu dibicarakan bersama, karena biasanya ada perbedaan selera dalam memilih tempat tinggal. 

Setelah beberapa tahun pernikahan biasanya kelurga memperoleh tambahan anggota, yaitu anak. Dalam relasi antara suami dan istri, banyak hal yang harus dibicarakan megenai hal-hal yang menyakut anak. Mulai dari konsepsi anak, jumlah anak, pendidikan formal anak, dan kebudayaan yang akan diajarkan pada anak. Dalam menentukan ini tidak jarang keluarga besar dari keduabelah pihak ikut campur tangan. Dan tidak jarang mereka malah menyulitkan pasangan tersebut dalam mengambil keputusan karena semakin banyak pihak yang berkomunikasi dan semakin banyak permintaan serta semakin banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Intinya masalah yang dikomunikasikan akan semakin kompleks. Belum lagi kalau terdapat perbedaan pendapat dari kedua keluarga.

Selain masalah-masalah yang disebutkan diatas, masih banyak hal lagi yang perlu dikomunikasikan dalam rumah tangga. Secara umum, komunikasi yang paling berpengaruh dalam pernikahan adalah ketika menjalani kehidupan sehari-hari, yaitu bagaimana kedua pasangan saling memperhatikan, membuka diri terhadap pasangannya, bagaimana bersikap secara emosional seperti menghibur ketika salah satu memiliki masalah, bagaimana berespon ketika pasangan melakukan hal yang kurang disenangi, dan sebagainya. Poin yang paling penting menurut saya adalah bagaimana berespon terhadap pasangan. Perbedaan suku biasanya membawa pada perbedaan bahasa, sehingga ada istilah yang tidak diketahui pasangan dan ada juga yang sama namun berbeda makna. Jika keduanya tidak saling memahami dan tidak bisa mengomunikasikannya dengan baik, maka kesalahpaham akan terjadi. Kelihatannya sepele, namun sering terabaikan oleh pasangan menikah. Akibatnya tidak hanya sepele, malah hal ini yang sering menjadi dasar masalah besar dalam pernikahan dan tidak jarang berkahir dengan perceraian dengan alasan ‘tidak cocok’. Jika pasangan menikah tidak tinggal serumah, maka kemungkinan masalah biasanya lebih sering (lebih rentan masalah). Salah satu faktornya adalah kurangnya komunikasi. Sesering apapun mreka berkomunikasi lewat telepon atau media online lainnya, itu tidak akan lebih efektif dibandingkan berkomunikasi langsung. Alasannya adalah jika berkomunikasi langsung, komunikasi yang dilakukan tidak hanya secara verbal, namun ada bantuan komunkasi melalui bahasa tubuh/ faktor situasional (seperti petunjuk proksemik dan petunjuk kinestik).

 

 

 

 

BAB IV :

Kesimpulan

Dalam suatu hubungan yang harmonis dan saling membutuhkan, komunikasi yang menyenangkan akan terjadi dengan sendirinya. Baik suami maupun istri selalu ingin berbagi cerita tentang pengalaman, pemikiran, dan perasaan kepada pasangannnya. Komunikasi yang umunya dibicarakan dalam pasangan menikah, termasuk masa persiapan adalah :

! Sosialisasi keluarga dan pemilihan adat ketika resepsi,

! Pengalokasian finansial pada pasangan yang bekerja,

! Kesepakatan tempat tinggal (termasuk jika harus pisah rumah karena tuntutan profesi)

! Konsepsi dan jumlah anak, pendidikan budaya yang diajarkan pada anak.

! Keterbukaan (saling berbagi pengalaman dan saling memberi dukungan)

Agar komunikasi berjalan dengan baik, saling mempelajari gaya komunikasi dalam keluarga pasangan perlu dilakukan. Semakin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat nonverbal, sehingga makin sulit komunikasi dilakukan.                          

 

 

Jatinangor, 29 Maret 2012

   Penulis


 

Daftar Pustaka

  • Myers, David G. 2008. Social Psychology.9th ed. New york : McGraw-Hill
  • Diktat Psikologi Sosial 2
  • EVALINA. 2007. Perkawinan Pria Batak Toba Dan Wanita Jawa Dikota Surakarta Serta Akibat Hukumnya Dalam Pewarisan.Semarang :http://eprints.undip.ac.id/17269/1/EVALINA.pdf diunduh : Selasa, 27 Maret 2012, Pukul 13.00 WIB.

Diunduh : Jumat, 60 April 2012, pukul 22.00WIB