Psychology : The Study Of Mental Processes And Behavior

Kasus Susan yang mengalami penurunan IQ dari 120 menjadi 70 dikarenakan oleh ibu Susan tidak telah meninggalkan dan tidak tinggal bersamanya selama kurang lebih 5 tahun. Keadaan Susan kembali membaik setelah ibunya kembali. Ini merupakan kasus yang sangat jarang terjadi karena perubahan lingkungan menyebabkan peningkatan fungsi otak.

Manusia adalah makhluk yang rumit. Dalam persimpangan kebudayaan dan biologi terletak psikologi yang secara sistematis mempelajari proses psikis dan perilaku.

1.1  Perbatasan dan batas-batas dari psikologi

Biologi dan budaya membangun baik peluang dan kendala di mana orang berpikir, merasa dan bertindak tetapi potensi manusia ditentukan oleh struktur otak.

1.1.1  Dari pikiran ke otak-Perbatasan dengan alam

Perbatasan biologis dari psikologi adalah bagian dari biopsikologi yang menyelidiki fisik dasar dari fenomena psikologi seperti motivasi, emosi, dan tekanan. Dalam bidang ini neuropsikologi dan ilmuwan saraf fokus dalam hubungan antara kerja dari otak dan proses psikis dan perilaki. Meskipun mempelajari pikiran, perasaan, ketakutan, atau harapan, iluwan saraf menyelidiki proses elektrik dan kimiawi dalam sistem saraf yang mendasari kejadian psikis itu.

1.1.2  Pandangan global-Perbatasan dengan kebudayaan

Kebudayaan dan interaksi dengan orang lain mempengaruhi terbentuknya kepribadian seseorang.

Antropolog psikologis : mempelajari fenomena psikologis dalam kebudayaan yang berbeda, dengan mengobservasi orang sebagai perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari mereka.

1950, ketertarikan dalam hubungan antara kebudayaan dan atribut psikologis semakin berjurang selama beberapa dekade. Bebrapa peneliti mengembangkan psikologi lintas budaya yang berusaha untuk mengetes hipotesis psikologis di budaya-budaya yang berbeda. Perbandingan lintas budaya dapat membedakan antara proses psikologis yang universal dan spesifik.

1.1.3  Akar-akar psikologis dari pertanyaan pertanyaan psikologis

Psikologi lahir dari peranakan filosofi.

Salah satu pertanyaan yang termasuk pertanyaan filosofi dalam psikologi adalah apakah tindakan manusia merupakan hasil dari keinginan sendiri atau tidak. Belum pernah ada yang menawarkan solusi yang bail untuk mind-body problem (pertanyaan bagaimana psikis dan fisik berhubungan).

1.2  FUNGSI PERSPEKTIF DALAM PSIKOLOGI

Kita telah menguji keterikatan antara Psikologi dengan Biologi dan kebudayaan, dimana memberikan konteks bagian dalam dan bagian luar proses mental dan perilaku, dan telah dieksplorasi cara pembatasan pertanyaan-pertanyaan pada filosofi. Sekarang kita bergerak ke dalam dari batasan untuk menguji teori perspektif yang menjadi pemandu cara para psikolog membuat pertanyaan-pertanyaan dan usaha untuk menjawabnya.

Para psikolog dalam beberapa cara sama seperti para pria yang buta, bersusah payah dengan instrumen yang tidak sempurna untuk mencoba memahami hewan buas yang kita sebut dengan sifat dasar manusia dan secara khusus hanya memegang suatu bagian dari hewan ketika mencoba untuk memahami secara keseluruhan. Keempat perspektif yang menjadi pemandu pemikiran secara psikologi, terkadang memberikan persaingan dan terkadang saling mengisi dalam kerangka kerja atau sudut pandang pada fenomena dari kekacauan kepribadian antisosial sampai kepada cara orang-orang membuat keputusan ketika memilih jodoh.

   Perspektif-perspektif ini mirip dengan banyak penghormatan terhadap perspektif dengan cara intuisi yang orang-orang gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Gestalt, orang yang mempercayau bahwa persepsi bukanlah melalui pengalaman yang pasif, dimana orang mengambil potret fotografi rincian dari dunia di sekitar mereka. Melainkan, mereka berdebat, persepsi adalah sebuah pengalaman aktif yang mengesankan suatu perintah pada sebuah panorama yang besar sekali secara rinci dengan melihatnya secara sebagian dari keseluruhan yang lebih besar.  

Cara orang-orang memahami fakta spesifik atau rincian tergantung pada interpretasi mereka mengenai objek secara keseluruhan.

Perspektif pada Psikologi sama dengan lensa yang tidak sempurna, dimana yang satu dapat melihat beberapa aspek secara nyata. Seringkali terlalu cekung atau cembung, sering membuat pemakainya buta mengenai data pada sekeliling pemahaman mereka, tetapi tanpa lensa tersebut kita akan menjadi buta total.

Hubungan antara “kenyataan” dan interpretasi pengetahuan dideskripsikan secara panjang lebar oleh Thomas Kuhn, ahli filsafat ilmu pengetahuan. Kuhn telah mengobservasi bahwa ilmu pengetahuan tidak bertambah melalui akumulasi fakta-fakta sebanyak yang telah dipercayai. Melainkan, ilmu pengetahuan bertambah berdasarkan perkembangan yang baik dan paradigma yang lebih baik. Paradigma adalah sebuah sistem yang luas mengenai asumsi teori dimana komunitas ilmuwan digunakan untuk membuat perasaan dari sebuah pengalaman.

Paradigma memiliki beberapa kunci komponen. Pertama, memasukkan sekumpulan tuntutan teori yang memberikan sebuah model atau gambaran abstak dari objek pembelajaran. Kedua, memasukkan sekumpulan kiasan yang membandingkan objek investigasi dengan yang lain yang sudah dipahami. Ketiga, memasukkan sekumpulan metode-metode dimana anggota-anggota komunitas ilmuwan akan setuju, jika digunakan sebagaimana mestinya, hasilnya valid, dan datanya berguna.

Berdasarkan penjelasan Kuhn, Psikologi berbeda dari ilmu pengetahuan alam dimana kekurangan paradigma dimana sebagian besar komunitas ilmuwan setuju.  Malahan, Ia mengemukakaka, ilmu pengetahuan sosial masih terbagi menjadi beberapa pemikiran, atau yang biasa kita sebut dengan perspektif. Perspektif biasanya memandu pada investigasi secara psikologi.

Pada bagian ini, kita akan menguji psychodynamic, behaviorist, cognitive, and evolutionary perspectives. Keempat hal ini niscaya suatu hari akan mengkontribusikan  kepada integrasi paradigma.  

1.2.1 PERSPEKTIF PSIKODINAMIK

Perspektif Psikodinamik mengembangkan pendekatan untuk memahami fenomena kelainan psikologis yang kemudian dikenal sebagai Psikoanalisis.

Teorinya menekankan pada psikodinamika, yakni “the dynamic interplay of mental forces”.

Beberapa asumsi dasar dari psikodinamika, yaitu:

  1. Perbuatan manusia ditentukan oleh cara pikiran, perasaan, dan kehendak terhubung dalam jiwa
  2. Banyak peristiwa mental terjadi diluar kesadaran (tak tersadari)
  3. Dalam sebuah ungkapan: “Unconscious motives may be out of sight, but they are not out of mind”

Proses mental ini bisa jadi berseberangan antara satu dengan lainnya hingga berlangsung kompromi antar-motif yang bersaing.

Asal Usul Pendekatan Psikodinamik

Freud meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, impuls, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu – waktu akan menuntut untuk dipuaskan.

Perkembangan Pendekatan Psikodinamik

Freud menganalogikan motivasi sadar seperti ujung gunung es yang kelihatan dan motivasi pikiran tak sadar itu seperti kapal selam di bawah laut. Freud menegaskan bahwa keinginan sadar seseorang mungkin mencerminkan konflik dan kompromi yang tidak sadar.

Metode dan Data Perspektif Psikodinamik

Pemahaman psikodinamik beusaha untuk menafsirkan makna, yaitu, untuk menyimpulkan keinginan yang mendasari rasa takut, perilaku dan pola pikir sadar seseoang. Psikodinamika menginterpretasikan makna-makna dengan memakai segala macam bentuk informasi. Hal ini didasari asumsi bahwa seseorang menampakkan dirinya sendiri dalam segala sesuatu yang diperbuatnya. “People reveal themselves in everything they do”.

1.2.2 PERSPEKTIF PERILAKU

Behaviorisme berfokus pada hubungan antara objek atau kejadian di dalam lingkungan (stimuli) dengan organisme yang merespon kejadian itu. Secara sederhana dapat digambarkan dalam model S – R atau suatu kaitan Stimulus – Respon. Ini berarti tingkah laku itu seperti reflek tanpa kerja mental sama sekali.

Asal Usul Pendekatan Perilaku

Behaviorisme jejak akarnya ada di awal abad ke-20, saat banyak psikolog menekankan analisis diri proses mental (introspeksi) atau teori psikoanalisis Sigmund Freud. Sebaliknya, peneliti seperti Ivan Pavlov dan John B. Watson mulai mengembangkan kerangka kerja yang menekankan proses-proses yang dapat diamati (rangsangan lingkungan dan tanggapan perilaku). Hasilnya adalah sebuah pendekatan baru, behaviorisme, yang tumbuh populer selama lima puluh tahun, menjadi kerangka kerja yang dominan untuk penelitian eksperimental.

Dasar filosofis awal untuk belajar perspektif kepribadian adalah filsuf Inggris, John Locke (1632-1704) yang memandang bayi yang baru lahir sebagai sebuah batu tulis kosong – tabula rasa – pada siapa pengalaman hidup akan menulis cerita tertentu. Ia kemudian mengklaim bahwa jika ia diberi 12 bayi sehat saat lahir, ia bisa mengubahnya menjadi apa pun yang ia inginkan, hanya dengan mengendalikan lingkungan mereka. Akar filosofis ini berseberangan dengan dualismenya Rene Descartes, yang percaya bahwa jiwa memiliki kebebasan untuk berfikir dan memilih, sementara tubuh dikuasai oleh hukum-hukum alam.

Lingkungan dan Perilaku

Melalui eksperimentasinya sampai pada simpulan bahwa perilaku dibentuk atau hasil dari suatu proses belajar. Di sini terdapat penekanan pada hubungan antara obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa (stimuli) dengan respon suatu organisme (hewan atau manusia) terhadapnya. Jadi, perilaku organisme dapat dikontrol oleh kondisi lingkungan. Setiap perubahan lingkungan, baik menguat (reinforce) maupun menurun (punish), bisa memberi dampak pada perubahan perilaku.

Perkembangan, Metode, dan Data Behaviorisme

“There is no place in a scientific analysis of behavior for a mind or self”. Jadi ibarat sebuah kotak hitam, stimulus masuk kedalamnya dan respon kemudian keluar darinya. Adapun mekanisme yang terjadi dalam kotak tidaklah dapat diobservasi dan karenanya bukan urusan behavioris.

Metode utama dalam behaviorisme adalah metode eksperimental. Metode ini membutuhkan hipotesis/prediksi tentang persitiwa utama tertendu dalam lingkungan yang akan mempengauhi peilaku, lalu menguji hipotesis tersebut di laboratuium.

1.2.3 PERSPEKTIF KOGNITIF

Pendekatan ini menekankan bahwa tingkah laku adalah proses mental, dimana individu (Organisme) aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Jika dibuatkan model adalah sebagai berikut S – O – R. Individu menerima stimulus lalu melakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang.

Asal Usul Perspektif Kognitif

Berakar pada filosofi rasionalistik, percaya bahwa akal dapat menciptakan pengetahuan. Sekalipun konsep awalnya berasal dari pengalaman, tetapi seringkali ia berbeda dari tanggapan semula. Artinya, ada proses mental dimana konsep yang abstrak dikonstruksikan.

Perkembangan, Metode, dan Data Psikologi Kognitif

Jika behavioris menolak mentah-mentah konsep jiwa dengan kotak hitamnya, maka aliran kognitif memasukkan program ke dalam kotak hitam itu. Layaknya sebuah komputer, maka lingkungan menyuplai input, yang kemudian ditransformasikan (menjadi konsep/kategori), disimpan, dan selanjutnya diretrivasi menggunakan beragam program mental hingga keluar respon sebagai ouput-nya.

Metode utama yang digunakan oleh perspektif kognitif adalah eksperimental. Psikolog kognitif menggunakan prosedur eksperimen untuk menyimpulkan proses pikiran saat bekerja.

Psikoloh kognitif cenderung mempelajari proses, seperti ingatan dan pemahaman dalam pengambilan keputusan yang melibatkan emosi dan motivasi.

Dalam penelitiannya, aliran ini memandang bahwa cara orang berfikir dan konsep-konsep yang mereka pegang tentang keadaan takut atau senang, memainkan peran substansial dalam pembentukan emosi.

1.2.4 PERSPEKTIF EVOLUSIONARIS

Psikologi evolusionaris menjelaskan ciri-psikologis seperti memori, persepsi, atau bahasa-sebagai adaptasi, yaitu sebagai produk fungsional dari seleksi alam atau seleksi seksual. Perspektif evolusioner berpendapat bahwa kecenderungan perilaku manusia, mulai dari makan sampai memperhatikan anak-anak mereka, telah berubah menjadi umum dalam populasi manusia karena mereka membantu nenek moyang mereka bertahan dan menghasilkan keturunan yang diharapkan dapat tetap bertahan pula.

Asal Usul Perspektif Evolusionaris

Akar filosofinya dari ajaran Charles Darwin yang menyatakan bahwa spesies yang ada merupakan produk dari jutaan tahun proses evolusi yang berlangsung melalui mekanisme seleksi alam, dimana hanya organisme yang mampu beradaptasi dengan perubahan yang akan bertahan hidup.

Ethologi, Sosiobiologi, dan Psikologi Evolusionaris

Evolusionaris menyimpulkan bahwa transmisi genetik dari orang tua atau induk kepada anak keturunannya tidak hanya terbatas pada aspek fisik (physical traits) tetapi juga kecenderungan mental dan perilaku (behavioral and mental tendencies). Evolusionaris pun memandang bahwa otak manusia, seperti halnya mata dan hati, telah terdesain secara alamiah untuk menyelesaikan problematika tertentu termasuk masalah reproduksi dan keberlangsungan hidup (survival and reproduction), misal memilih pasangan, memakai bahasa, bersaing memperebutkan sumberdaya yang ada, bekerjasama dengan teman, tetangga, atau mitra koalisi.

Metafora, metode dan data dari perspektif evolusioner

Metafora : hidup seperti perlombaan untuk kelangsungan hidup dan reproduksi. Metode evolusioner yang sering digunakan adalah penjelasan deduktif yang diawali dengan mengobservasi dari sesuatu yang sudah ada di alam dan mencoba untuk menjelaskan dengan argumen logis dengan eksperimen terbatas.

1.3  Menempatkan perspektif psikologi dalam perspektif

Apa yang diobservasi psikolog tidak hanya ditentukan oleh realitas di luar sana tetapi juga oleh lensa konseptual yang mereka pakai. Dalam setiap kasus harus digunakan berbagai perspektif agar tidak terjadi kesalahpahaman. Melihat melalui berbagai macam perspektif akan lebih baik daripada hanya melalui satu perspektif.

1.3.1  Psikologi dari psikologi

Psikolog psikodinamik : menekankan dasar perbedaan antara orang yang lebih memilih untuk bekerja bersama pasien untuk memahami gejala-gejala mereka dan yang lebih memilih untuk belajar perilaku melalui eksperimen. Psikolog psikodinamik juga menekankan psikolog untuk menemukan perspektif berbeda yang menarik. Behaviorist : mengajar psokolog untuk belajar membuat penyelesaian mereka sendiri. Dari perspektif kognitif : psikolog berpegang teguh dengan perspektif yang mereka senangi bahkan jika ada ketidaksesuaian Psikolog evolusioner : sistem kognitif manusia itu sendiri adalah salah satu produk evolusi.

Melalui biopsikologi mereka akan menemukan perbedaan dalam kekuatan, kelemahan dan kebiasaan yang akan mempengaruhi cara pikir psikolog mengenai isu-isu dan berbagai perspektifi yang menarik. Dari sudut kebudayaan, keyakinan psikolog tidak dapat dipisahkan dari pergerakan dan ideologi yang lebih luas.

1.3.2  Macam-macam psikologi

Psikologi perkembangan : mempelajari cara mengembangkan pola pikir, perasaan, dan perilaku dari bayi sampai mati.

Psikologi social : membahas interaksi psikologis perseorangan dan fenomena social.

Psikologi klinis : fokus kepada alam dan perawatan melalui proses psikologis yang mengarah ke gangguan emosi.

Psikologi industri/organisasi : membahas tingkah laku manusia di organisasi dan mancoba untuk memecahkan masalah organisasi.

Psikologi pendidikan : membahas proses psikologis dalam ketidakmampuan belajar, menerapkan pengetahuan psikologis dalam pengaturan pendidikan.

Psikologi kesehatan (yang sedang berkembang pesat) : membahas faktor psikologis yang menyangkut kesehatan dan penyakit.